KH. Mas Mansur Mengunjungi Lokasi Pelacuran

merdeka.com


Sejak memutuskan kuliah ke Al Azhar, Mas Mansur ternyata memiliki perhatian tinggi pada kondisi sosial masyarakat, terutama di Mesir. Ia pernah mendengar ada sebuah tempat pelacuran di pesisir pantai. Karena penasaran, ia pun mengunjungi tempat tersebut.

Akan tetapi penjaga kompleks melarangnya masuk, sebab kala itu Mas Mansur menggunakan seragam Al Azhar. Dengan kecerdikannya, Mas Mansur pun berhasil masuk ke lokasi dan melihat secara langsung buasnya pelacuran disana.

Para perempuan diperdagangkan secara paksa pada pelaut-pelaut dari Eropa. Ia juga melihat para perempuan dikerangkeng dan berteriak histeris dengan rambut acak-acakan. Melihat suasana itu Mas Mansur merasa sedih dan pilu.

Ternyata di bagian lain dari negara Mesir tersebut, Mas Mansur menemukan sepotong kemaksiatan yang merupakan gaya hidup ala orang Eropa. Untuk itulah Mas Mansur berani berkata dalam forum Muhammadiyah (1937) bahwa perzinahan di Mesir begitu meraja lela 30 tahun silam, dan berpesan kepada Umat Islam agar menjaga nasab dengan hati-hati.

Selama kuliah di Mesir, Mas Mansur memang senang mengamati kondisi masyarakat, bahkan ia datangi sendiri. Salah satunya ketika masyarakat Mesir begitu gandrung pada pertunjukan drama, dan kala itu ada artis terkenal bernama Umi Kulsum. Mas Mansur membeli tiket untuk menonton pertunjukan tersebut, dan tak disangka bertemu salah satu dosennya di Al Azhar. Sang dosen pun merasa malu.

Kisah ini tertulis dalam buku "KH. Mas Mansur, Perjuangan dan Pemikiran" yang ditulis oleh Darul Aqsha (2005) dan diterbitkan oleh Penerbit Erlangga. Kisah di atas merupakan cerita dari anak Mas Mansur, yaitu Ibrahim, yang mendengar cerita itu langsung dari sang ayah.

Tidak hanya berkunjung ke tempat hiburan, Mas Mansur juga pernah traveling hingga ke daerah dekat Tripoli, Libya. Butuh 6 hari dari Kairo menuju tempat yang bernama desa Syanggit tersebut.

Mas Mansur tertarik berkunjung ke desa tersebut karena ada lembaga pendidikan mirip pesantren yang memiliki sistem pembelajaran yang bagus, disiplin tinggi dan pengelolaan lembaga yang mengagumkan, hingga melahirkan banyak syaikh terkemuka di zamannya.

Ia pun berharap suatu kelak bisa mendirikan lembaga seperti yang ia temui di Syanggit tersebut ketika kembali ke tanah air. Dalam hati ia berucap : Man Jadda, wasal. Waman ijhada, hasal. (Barangsiapa bersungguh-sunguh mencapai maksudnya, niscaya terkabullah hajat itu).

(Ditulis oleh Ahmad Fahrizal Aziz)
loading...