Catatan Kecil Sang Perindu
Halaman sederhana yang memuat narasi Pemikiran Fahrizal Aziz Telminore (Sang Perindu) Mencoba memaknai hidup dengan keterbatasan, karena sebuah keterbatasan yang dibangun dengan ketekunan akan menjelma menjadi sebuah kekuatan.
Rabu, 15 Februari 2012
Gamelion
Hims
“Bagaimana mungkin ia hidup dalam keadaan kekurangan?” bathin Umar. Iapun menitikkan airmata. Sa'id bin 'Amr Al Jumahi adalah Gubernur Hims, salah satu daerah yang berhasil ditaklukkan dan dikuasai oleh Islam. Jika kita merenung, bagaimana mungkin seorang Gubernur, yang hidup di balik gemerlap kursi kekuasaan, setelah diteliti bahkan tidak memiliki sesuatu yang bisa dikatakan mewah: ya, ia termasuk dari yang disebut miskin.
“Kami tidak pernah melihat, ada perapian di dapurnya,” ucap salah seorang utusan. Bahkan untuk memenuhi dapurnya saja, ia tidak mampu. Tapi sebentar dulu, benarkah Sa'id adalah orang yang sangat miskin? Kalau kita logikakan sangat tidak masuk akal. Seorang Gubernur, Penguasa suatu wilayah mana mungkin hidup dalam keadaan yang begitu serba terbatas? Saya tidak yakin kalau dia benar-benar miskin.
Umar bin Khattab tak pernah lalai menyalurkan Baitul Mal untuk mensejahterakan rakyat-rakyat, jikalau diketahui ada yang masih kelaparan. Selain itu, ia tidak pernah lalai untuk menggaji para Gubernur. Jangankan hanya untuk memenuhi isi Dapur, seorang Gubernur harusnya mampu untuk hidup berkalang kemewahan. Bukan lagi isi dapur, seisi rumah bisa di beli bahkan ia ganti setiap bulan. Lalu ada apa dengan Sa'id?
Sesaat setelah mengetahui hal itu, Umar mengirim utusan untuk menemui Sa'id dan memberikannya uang seribu Dinar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang begitu kekurangan. Lalu apa yang dilakukann Sa'id dengan uang itu? Ia tak menggunakan uang yang dikirim Umar tersebut untuk memenuhi kebutuhan dapurnya, ia membagikan uang itu kepada rakyat Hims yang masih miskin. Ternyata itulah yang dilakukannya selama ini, gaji yang ia terima sebagian besar bahkan hampir keseluruhan ia infaqkan ke fakir miskin. Ia tak mau menikmatinya sendiri, “Karena aku adalah Pemimpin.” katanya
Kisah ini, sebenarnya tidak hanya sebuah sejarah. Namun juga merupakan sebuah kritik konstruktif dan mungkin destruktif untuk meruntuhkan kemewahan Negeri yang dibangun diatas tangisan dan penderitaan Rakyatnya. Dikala masih banyak yang kelaparan, mereka membuat sebagian dari kita mengelus dada. Menghambur-hamburkan uang untuk kemewahan, bahkan harga toilet jauh lebih mahal dibanding dengan perut kelaparan, mimpi duduk dibangku sekolah, dan semacamnya. Kursi yang lebih mahal dibanding sepiring nasi untuk menyambung nyawa, wewangian yang bahkan lebih megah dibanding rasa kemanusiaan.
Kisah ini, juga mengajarkan sebuah makna kesederhanaan. Bukan saja kritik untuk Penguasa yang lalim, namun juga untuk perilaku konsumerisme dan Hedonis yang akhir-akhir menjelma menjadi sebuah keniscayaan. “saya harus memiliki segalanya, saya harus bergaya trendy, macho. Saya harus makan di tempat yang mahal, saya harus menghabiskan uang ini untuk mengubah wujud saya menjadi elegant. Persetan dengan jerit tangisan mereka.”
Sa'id telah lebih lama mengingatkan kita untuk tidak menjadi 'robot', bergerak namun tak punya hati nurani. Dengan sikapnya, ia telah menyindir perilaku tak berbudi, apatis, dan hedonis. Ia mencoba membuat sebuah resonansi, jika hidup adalah sebuah kebersamaan. Hidup adalah sebuah makna keberadaan, jika kita ada haruslah dirasakan yang lain. Bukan karena kita ada, maka kita seperti mati. Bengis, kejam, angkuh, bahkan ketika kita tengah berada didepan derai air mata yang tak kunjung henti karena rasa sakit, yang bahkan sebagaian dari mereka tidak tahu kapan rasa sakit itu akan berakhir. Dari Hims, kita belajar Kearifan.
Catatan HitamMalang, 2 Februari 2012
Selasa, 31 Januari 2012
La Noche
Andai anda menjadi Alvin Toffler sekitar setengah abad yang lalu, kira-kira bagaimana cara mendeskripsikan kegalauannya? Atau paling tidak anda bertemu dan mengenalnya ketika bumi masih ‘gelap’ seperti rimba. Kala itu Toffler bersabda: “Masa mendatang, dunia akan diliputi cahaya. Orang-orang bisa dengan mudah saling sapa meski dalam jarak yang begitu jauh. Bumi pada masa mendatang ibarat sebuah kotak Pandora. Begitu ajaib” mendengar kata-katanya mungkin kita akan tertawa, ditengah pepohonan yang lebat, yang terang hanya terpancar dari matahari pagi dan siang, Toffler berseloroh tentang ramalannya yang autis, gila, dan mungkin bodoh. Bagaimana munkin bumi akan menjadi sebuah kotak yang sempit?
Karena masa itu, manusia tengah menikmati hidupnya dengan ‘La Noche’. Sebuah istilah yang direperesentasikan oleh Jore Luis Borges, seorang penyair Argentina, yang berarti malam hari. Jangankan dunia akan diliputi cahaya, kita bisa duduk berpendar lampu temaram saja adalah sebuah kejaiban. Apalagi dengan membaca-baca buku-buku. Buku adalah benda yang teramat istimewa. Ya, ketika Bumi masih menikmati masanya menjadi ‘La Noche’.
Namun ketika kita sebagai manusia pelaku abad 21, membaca ramalan Toffler. Maka kita akan berkata “siapa yang bodoh? Siapa yang gila?” Alvin Toffler benar. Bahkan ketika kala itu banyak orang mencemoohnya, dia berkata “ suatu ketika, Manusia akan tercengang jika masa itu tiba. Masa dimana dunia diliputi cahaya” dan kini terbukti. Mungkin kala itu orang-orang lupa jika ramalan Toffler bukanlah didasarkan pada sihir dan mantra-mantra. Tapi dari sebuah analisis mendalam sebagai seorang pekerja Jurnalis dan penulis, baru kemudian ia disebut futurist (peramal).
Hari ini, manusia memang tidak berjarak. Teknologi telah menjelmakan sesuatu yang dulu diangap tidak ada. Teknologi pula yang telah mempersonifikasikan ketidakmampuan sebagian orang membaca suasana. Ya, Toffler adalah salah satu dari sekian juta yang mampu ‘membaca’ disaat yang lain ‘buta’. Siapa yang sadar, jika diabad 21 akan muncul teknologi super cangih yang mampu menggantikan kesunyian, mengusir kegelapan, bahkan ‘membunuh’ Tuhan. Istilah yang dipopulerkan Nietzse.
Hari ini kita bisa dengan mudah bercanda dibalik dinding jarak yang mungkin tak mampu ditempuh oleh raga. Hari ini kita bisa ‘melihat’ sesuatu yang dulu tak terlihat. Sudut-sudut terpenting dibaian dunia, aya hidup berbagai Negara, hingaa wajah-wajah para ‘pekerja’ hidup yang kita tak akan mampu menjabat tangannya. Inilah abad 21, suatu abad yang berjarak Nampak dekat, dan hidup seakan tiada sekat.
Andaikan saya mampu kembali ke masa itu, saya akan menambahkan ramalan Toffler: “Ya, masa depan bumi memang akan berpendar cahaya. Disetiap sudut akan ada cahaya. Karena dengan cahaya itu semua akan menjadi terang dan kita bisa melihat banyak hal. Namun Cahaya itu akan menjelmakan dua hal: Berkah atau kutukan” karena cahaya, tidak hanya membuat kita mampu ‘melihat’ namun juga telah membakar sebagian.
Fedreric Nietzse, bahkan dengan kata yan mengerikan berucap “Cahaya itu telah membuat Tuhan menemui ajalnya” atau A. J Toynbee yang dengan khawatir mewanti-wanti “Cahaya itu, telah menjadikan peradaban kita bergantung pada dahan yang lapuk. Nyaris kita mati terjatuh” oh, lalu bagaimana dengan abad 21? Abad dimana cahaya berpendar ria, Berjaya, bahkan sangking panasnya.
Cahaya itu memang telah membakar, serupa penindasan di Paletina yang tak kunjung usai, hegemoni terhadap Irak, Afganistan, Libya, dan belahan bumi yang teraniaya. Cahaya itu bernama kapitalisme, yang telah membunuh hajat hidup orang-orang miskin. Menjadikan mereka manusia setengah iblis yang harus diperlakukan semena-mena. Cahaya itu serupa budaya, yang telah mengobrak-abrik karakter kaum muda dengan busana ‘telanjang’nya, seks, pesta pora, dan bentuk kebakaran yang sangat akut. Inikah kutukan?
Eropa yang merupakan awal mula terbitnya cahaya, sudah benar-benar terbakar. Liberalisme, seks, kapitalisme, hedonism, dan materialisme telah menjadi akar budaya. Tuhan hanya berupa symbol-simbol: gereja, lonceng, paskah, natal, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan Amerika? Ya, mereka adalah tongkat estafet cahaya, yang sudah benar-benar terbakar oleh kekuasaan dan kebiadaban terhadap Negara-negara ‘La Noche’. Lalu bagaimana dengan Asia? Atau Indonesia? Mari kita bahas.
Di asia, masih serupa ‘La Noche’. Meski Jepang, Cina, dan Korea telah mendeklarasikan diri sebagai cahaya. Dan bangsa Arab, mayoritas Islam seperti Indonesia dan Malaysia juga masihlah serupa ‘La Noche’ namun akhir-akhir ini tak terkecuali mereka berpendar cahaya, meski bukan berasal dari sumbu asli bangsanya. Lihatlah, di Negara kita Indonesia. Anak-anak muda sibuk nonton korea, berkencan dengan pacarnya, shopping, dan aneka kelucuan yang terkadang membuat mereka seperti bukan jati dirinya.
Tuhan juga hanya sekedar symbol-simbol. Banyaknya masjid-masjid, kampus-kampus yang berlabel agama, sekolah-sekolah yang berlabel agama, departemen agama. Ah, korupsi, hukum yang tak adil, money politic, kekuasaan dan kemewahan telah membakar eksistensi kita. Ya, Cahaya yang berpendar adalah serupa kutukan.
Lalu bagaimana dengan berkah? Ya berkah adalah ketika kita tidak mau terbakar oleh cahaya. Apakah kita harus menyalahkan cahaya? Tidak, tapi berhati-hatilah. Indonesia, melalui anak-anak mudanya sudah mulai terbakar. Meski belum hangus, namun jika seiring waktu kita tetap membiarkan cahaya ‘membakar’ bukan ‘menerangi’ maka kita akan benar-benar mati. Seperti eropa, Amerika dan sebagian Negara Asia. Indikasi mati adalah ketika tak lagi menggunakan hati nurani, kesopanan, dan toleransi terhadap alam.
Caranya hanya dua: biarkan cahaya menerangi dan mari menghidupkan Tuhan. Minimal, ‘La Noche’ akan kembali berkolaborasi dengan Cahaya. Dan kita yang terbakar, harus segera mematikan api-apinya. Karena kalau kita telah hangus terbakar, persis seperti kata Buya Syafii Maarif “Jasadnya hidup, namun hatinya lumpuh bahkan mati”
Catatan Hitam
- Fahrizal Aziz
Blitar, 31 Januari 2012
Senin, 02 Januari 2012
Nabi Malapetaka
Minggu, 01 Januari 2012
Duka Kembang api
Aku dan Cermin itu__Telminore__
Memadu, terangkai memilu
terlukis sempurna
memahat lekuk rupa terdera
Aku dan cermin itu
Saling menatap, lekat-lekat
Menerka, membaca
Lirik nada yang tergaris dimata
Masih seperti biasa, jalanan malam itu penuh sesak dengan muda-mudi. mata mereka nanar memandang euforia kembang api dan suara letusan-letusan mercon. terompet bersahutan menyambut detik pergantian yang nampak bersenda dengan uraian senyum kebahagian dan semua terendam dalam riak penuh kebisingan.
Happy new year
Selamat tinggal 2011
dan sejuta pekikan penuh luapan yang emosial dan berperasaan. dengan sedikit menatap langit, kita bisa melihat atap yang penuh kembang api. merah, kuning, hijau, jingga semua memadu membentuk sebuah sajak penuh kemegahan. entah, itu luapan kebahagiaan atau ekspresi frustasi atas hari-hari yang menjemukan, membosankan, dan mengenaskan. semua hanya mampu menerka, saya pun dengan tatapan tajam mencoba membaca senyum dibalik raut mereka.
Karena tidak sedikit yang diam pada malam itu. semua tumpah menjadi satu di jalanan, alun-alun kota, cafe-cafe serta lapangan-lapangan terbuka dengan hiburan-hiburan dan pesta pora. semua menyeruak, turut ambil bagian atas pergantian tahun, atau.... merayakan duka 2011 yang penuh dengan ketidak adilan, kegalauan, dan dengan senyum lebar berharap akan terbuka pintu yang mendatangkan keberuntungan di tahun 2012.
senyum mereka sebenarnya penuh tanya. antara bahagia dan duka. antara pesta pora dan frustasi massa. antara harapan dan kematian. semua penuh tanya, tiada yang pasti. jika 2011 adalah tahun kebaikan, dimana semua berjalan semestinya. bukankah tidak perlu kita menyambutnya dengan gelak tawa dan merah merona, karena 2012 belum tentu sama. namun agaknya bukan itu. 2011 tidak demikian, justru sebaliknya. 2011 adalah tahun penuh duka, penuh durja, nestapa dan tahun penuh luka. maka kita berpesta pora atas kepergiannya. bukankah seperti itu?
lagi-lagi, semua berada dalam tanya. Mata itu, senyum itu, dan semuanya. Tiada yang pasti. Lalu apa symbol dari kembang api? Apakah sebuah symbol kebahagiaan? Atau symbol apa? Kenapa harus kembang api? Bukankah api panas? Bukankah api membuat tubuh kita terbakar? Bukankah api adalah dzat syaitan? Bukankah api adalah neraka? Oh, lagi-lagi semua penuh Tanya.
Kenapa harus mercon? Yang meledak, mengagetkan banyak orang, memberikan ketakutan, dan menimbulkan asap serta kertas yang merisaukan pandangan. Apakah tahun baru sama dengan api? Yang membakar, panas, dan melukai? Apakah tahun baru sama seperti mercon? Yang meneror orang karena takut terkagetkan? Yang membuat dada berdegup takjub dan sakit?
Oh ya, kenapa juga harus terompet? Bukankah kata Tuhan terompet adalah symbol kiamat, dan kiamat berarti adalah kehancuran? Ah, siapa yang bisa menjawab ini? Semua dalam Tanya. Semua dalam kebingungan, kegalauan, dan akhirnya ‘mati’ dalam ketidak tahuan.
Semua dalam ketidak pastian. Karena kita telah ‘mati’. Kembang api itu penuh duka, karena tiada satupun tidak tahu maknanya. Sehingga kita telah digerakkan oleh sesuatu yang kita sendiri tidak tahu sesuatu itu. Eksistensi sebagai manusia yang berfikir telah mati. Karena kalau kita hidup, tidak mungkin akan ikut terombang-ambing dalam ketidak tahuan. Pasti kita bertanya. Untuk apa ini? Kita patut berduka. Wallohu’alam
Rabu, 15 Februari 2012
Gamelion
Hims
“Bagaimana mungkin ia hidup dalam keadaan kekurangan?” bathin Umar. Iapun menitikkan airmata. Sa'id bin 'Amr Al Jumahi adalah Gubernur Hims, salah satu daerah yang berhasil ditaklukkan dan dikuasai oleh Islam. Jika kita merenung, bagaimana mungkin seorang Gubernur, yang hidup di balik gemerlap kursi kekuasaan, setelah diteliti bahkan tidak memiliki sesuatu yang bisa dikatakan mewah: ya, ia termasuk dari yang disebut miskin.
“Kami tidak pernah melihat, ada perapian di dapurnya,” ucap salah seorang utusan. Bahkan untuk memenuhi dapurnya saja, ia tidak mampu. Tapi sebentar dulu, benarkah Sa'id adalah orang yang sangat miskin? Kalau kita logikakan sangat tidak masuk akal. Seorang Gubernur, Penguasa suatu wilayah mana mungkin hidup dalam keadaan yang begitu serba terbatas? Saya tidak yakin kalau dia benar-benar miskin.
Umar bin Khattab tak pernah lalai menyalurkan Baitul Mal untuk mensejahterakan rakyat-rakyat, jikalau diketahui ada yang masih kelaparan. Selain itu, ia tidak pernah lalai untuk menggaji para Gubernur. Jangankan hanya untuk memenuhi isi Dapur, seorang Gubernur harusnya mampu untuk hidup berkalang kemewahan. Bukan lagi isi dapur, seisi rumah bisa di beli bahkan ia ganti setiap bulan. Lalu ada apa dengan Sa'id?
Sesaat setelah mengetahui hal itu, Umar mengirim utusan untuk menemui Sa'id dan memberikannya uang seribu Dinar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang begitu kekurangan. Lalu apa yang dilakukann Sa'id dengan uang itu? Ia tak menggunakan uang yang dikirim Umar tersebut untuk memenuhi kebutuhan dapurnya, ia membagikan uang itu kepada rakyat Hims yang masih miskin. Ternyata itulah yang dilakukannya selama ini, gaji yang ia terima sebagian besar bahkan hampir keseluruhan ia infaqkan ke fakir miskin. Ia tak mau menikmatinya sendiri, “Karena aku adalah Pemimpin.” katanya
Kisah ini, sebenarnya tidak hanya sebuah sejarah. Namun juga merupakan sebuah kritik konstruktif dan mungkin destruktif untuk meruntuhkan kemewahan Negeri yang dibangun diatas tangisan dan penderitaan Rakyatnya. Dikala masih banyak yang kelaparan, mereka membuat sebagian dari kita mengelus dada. Menghambur-hamburkan uang untuk kemewahan, bahkan harga toilet jauh lebih mahal dibanding dengan perut kelaparan, mimpi duduk dibangku sekolah, dan semacamnya. Kursi yang lebih mahal dibanding sepiring nasi untuk menyambung nyawa, wewangian yang bahkan lebih megah dibanding rasa kemanusiaan.
Kisah ini, juga mengajarkan sebuah makna kesederhanaan. Bukan saja kritik untuk Penguasa yang lalim, namun juga untuk perilaku konsumerisme dan Hedonis yang akhir-akhir menjelma menjadi sebuah keniscayaan. “saya harus memiliki segalanya, saya harus bergaya trendy, macho. Saya harus makan di tempat yang mahal, saya harus menghabiskan uang ini untuk mengubah wujud saya menjadi elegant. Persetan dengan jerit tangisan mereka.”
Sa'id telah lebih lama mengingatkan kita untuk tidak menjadi 'robot', bergerak namun tak punya hati nurani. Dengan sikapnya, ia telah menyindir perilaku tak berbudi, apatis, dan hedonis. Ia mencoba membuat sebuah resonansi, jika hidup adalah sebuah kebersamaan. Hidup adalah sebuah makna keberadaan, jika kita ada haruslah dirasakan yang lain. Bukan karena kita ada, maka kita seperti mati. Bengis, kejam, angkuh, bahkan ketika kita tengah berada didepan derai air mata yang tak kunjung henti karena rasa sakit, yang bahkan sebagaian dari mereka tidak tahu kapan rasa sakit itu akan berakhir. Dari Hims, kita belajar Kearifan.
Catatan HitamMalang, 2 Februari 2012
Selasa, 31 Januari 2012
La Noche
Andai anda menjadi Alvin Toffler sekitar setengah abad yang lalu, kira-kira bagaimana cara mendeskripsikan kegalauannya? Atau paling tidak anda bertemu dan mengenalnya ketika bumi masih ‘gelap’ seperti rimba. Kala itu Toffler bersabda: “Masa mendatang, dunia akan diliputi cahaya. Orang-orang bisa dengan mudah saling sapa meski dalam jarak yang begitu jauh. Bumi pada masa mendatang ibarat sebuah kotak Pandora. Begitu ajaib” mendengar kata-katanya mungkin kita akan tertawa, ditengah pepohonan yang lebat, yang terang hanya terpancar dari matahari pagi dan siang, Toffler berseloroh tentang ramalannya yang autis, gila, dan mungkin bodoh. Bagaimana munkin bumi akan menjadi sebuah kotak yang sempit?
Karena masa itu, manusia tengah menikmati hidupnya dengan ‘La Noche’. Sebuah istilah yang direperesentasikan oleh Jore Luis Borges, seorang penyair Argentina, yang berarti malam hari. Jangankan dunia akan diliputi cahaya, kita bisa duduk berpendar lampu temaram saja adalah sebuah kejaiban. Apalagi dengan membaca-baca buku-buku. Buku adalah benda yang teramat istimewa. Ya, ketika Bumi masih menikmati masanya menjadi ‘La Noche’.
Namun ketika kita sebagai manusia pelaku abad 21, membaca ramalan Toffler. Maka kita akan berkata “siapa yang bodoh? Siapa yang gila?” Alvin Toffler benar. Bahkan ketika kala itu banyak orang mencemoohnya, dia berkata “ suatu ketika, Manusia akan tercengang jika masa itu tiba. Masa dimana dunia diliputi cahaya” dan kini terbukti. Mungkin kala itu orang-orang lupa jika ramalan Toffler bukanlah didasarkan pada sihir dan mantra-mantra. Tapi dari sebuah analisis mendalam sebagai seorang pekerja Jurnalis dan penulis, baru kemudian ia disebut futurist (peramal).
Hari ini, manusia memang tidak berjarak. Teknologi telah menjelmakan sesuatu yang dulu diangap tidak ada. Teknologi pula yang telah mempersonifikasikan ketidakmampuan sebagian orang membaca suasana. Ya, Toffler adalah salah satu dari sekian juta yang mampu ‘membaca’ disaat yang lain ‘buta’. Siapa yang sadar, jika diabad 21 akan muncul teknologi super cangih yang mampu menggantikan kesunyian, mengusir kegelapan, bahkan ‘membunuh’ Tuhan. Istilah yang dipopulerkan Nietzse.
Hari ini kita bisa dengan mudah bercanda dibalik dinding jarak yang mungkin tak mampu ditempuh oleh raga. Hari ini kita bisa ‘melihat’ sesuatu yang dulu tak terlihat. Sudut-sudut terpenting dibaian dunia, aya hidup berbagai Negara, hingaa wajah-wajah para ‘pekerja’ hidup yang kita tak akan mampu menjabat tangannya. Inilah abad 21, suatu abad yang berjarak Nampak dekat, dan hidup seakan tiada sekat.
Andaikan saya mampu kembali ke masa itu, saya akan menambahkan ramalan Toffler: “Ya, masa depan bumi memang akan berpendar cahaya. Disetiap sudut akan ada cahaya. Karena dengan cahaya itu semua akan menjadi terang dan kita bisa melihat banyak hal. Namun Cahaya itu akan menjelmakan dua hal: Berkah atau kutukan” karena cahaya, tidak hanya membuat kita mampu ‘melihat’ namun juga telah membakar sebagian.
Fedreric Nietzse, bahkan dengan kata yan mengerikan berucap “Cahaya itu telah membuat Tuhan menemui ajalnya” atau A. J Toynbee yang dengan khawatir mewanti-wanti “Cahaya itu, telah menjadikan peradaban kita bergantung pada dahan yang lapuk. Nyaris kita mati terjatuh” oh, lalu bagaimana dengan abad 21? Abad dimana cahaya berpendar ria, Berjaya, bahkan sangking panasnya.
Cahaya itu memang telah membakar, serupa penindasan di Paletina yang tak kunjung usai, hegemoni terhadap Irak, Afganistan, Libya, dan belahan bumi yang teraniaya. Cahaya itu bernama kapitalisme, yang telah membunuh hajat hidup orang-orang miskin. Menjadikan mereka manusia setengah iblis yang harus diperlakukan semena-mena. Cahaya itu serupa budaya, yang telah mengobrak-abrik karakter kaum muda dengan busana ‘telanjang’nya, seks, pesta pora, dan bentuk kebakaran yang sangat akut. Inikah kutukan?
Eropa yang merupakan awal mula terbitnya cahaya, sudah benar-benar terbakar. Liberalisme, seks, kapitalisme, hedonism, dan materialisme telah menjadi akar budaya. Tuhan hanya berupa symbol-simbol: gereja, lonceng, paskah, natal, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan Amerika? Ya, mereka adalah tongkat estafet cahaya, yang sudah benar-benar terbakar oleh kekuasaan dan kebiadaban terhadap Negara-negara ‘La Noche’. Lalu bagaimana dengan Asia? Atau Indonesia? Mari kita bahas.
Di asia, masih serupa ‘La Noche’. Meski Jepang, Cina, dan Korea telah mendeklarasikan diri sebagai cahaya. Dan bangsa Arab, mayoritas Islam seperti Indonesia dan Malaysia juga masihlah serupa ‘La Noche’ namun akhir-akhir ini tak terkecuali mereka berpendar cahaya, meski bukan berasal dari sumbu asli bangsanya. Lihatlah, di Negara kita Indonesia. Anak-anak muda sibuk nonton korea, berkencan dengan pacarnya, shopping, dan aneka kelucuan yang terkadang membuat mereka seperti bukan jati dirinya.
Tuhan juga hanya sekedar symbol-simbol. Banyaknya masjid-masjid, kampus-kampus yang berlabel agama, sekolah-sekolah yang berlabel agama, departemen agama. Ah, korupsi, hukum yang tak adil, money politic, kekuasaan dan kemewahan telah membakar eksistensi kita. Ya, Cahaya yang berpendar adalah serupa kutukan.
Lalu bagaimana dengan berkah? Ya berkah adalah ketika kita tidak mau terbakar oleh cahaya. Apakah kita harus menyalahkan cahaya? Tidak, tapi berhati-hatilah. Indonesia, melalui anak-anak mudanya sudah mulai terbakar. Meski belum hangus, namun jika seiring waktu kita tetap membiarkan cahaya ‘membakar’ bukan ‘menerangi’ maka kita akan benar-benar mati. Seperti eropa, Amerika dan sebagian Negara Asia. Indikasi mati adalah ketika tak lagi menggunakan hati nurani, kesopanan, dan toleransi terhadap alam.
Caranya hanya dua: biarkan cahaya menerangi dan mari menghidupkan Tuhan. Minimal, ‘La Noche’ akan kembali berkolaborasi dengan Cahaya. Dan kita yang terbakar, harus segera mematikan api-apinya. Karena kalau kita telah hangus terbakar, persis seperti kata Buya Syafii Maarif “Jasadnya hidup, namun hatinya lumpuh bahkan mati”
Catatan Hitam
- Fahrizal Aziz
Blitar, 31 Januari 2012
Senin, 02 Januari 2012
Nabi Malapetaka
Minggu, 01 Januari 2012
Duka Kembang api
Aku dan Cermin itu__Telminore__
Memadu, terangkai memilu
terlukis sempurna
memahat lekuk rupa terdera
Aku dan cermin itu
Saling menatap, lekat-lekat
Menerka, membaca
Lirik nada yang tergaris dimata
Masih seperti biasa, jalanan malam itu penuh sesak dengan muda-mudi. mata mereka nanar memandang euforia kembang api dan suara letusan-letusan mercon. terompet bersahutan menyambut detik pergantian yang nampak bersenda dengan uraian senyum kebahagian dan semua terendam dalam riak penuh kebisingan.
Happy new year
Selamat tinggal 2011
dan sejuta pekikan penuh luapan yang emosial dan berperasaan. dengan sedikit menatap langit, kita bisa melihat atap yang penuh kembang api. merah, kuning, hijau, jingga semua memadu membentuk sebuah sajak penuh kemegahan. entah, itu luapan kebahagiaan atau ekspresi frustasi atas hari-hari yang menjemukan, membosankan, dan mengenaskan. semua hanya mampu menerka, saya pun dengan tatapan tajam mencoba membaca senyum dibalik raut mereka.
Karena tidak sedikit yang diam pada malam itu. semua tumpah menjadi satu di jalanan, alun-alun kota, cafe-cafe serta lapangan-lapangan terbuka dengan hiburan-hiburan dan pesta pora. semua menyeruak, turut ambil bagian atas pergantian tahun, atau.... merayakan duka 2011 yang penuh dengan ketidak adilan, kegalauan, dan dengan senyum lebar berharap akan terbuka pintu yang mendatangkan keberuntungan di tahun 2012.
senyum mereka sebenarnya penuh tanya. antara bahagia dan duka. antara pesta pora dan frustasi massa. antara harapan dan kematian. semua penuh tanya, tiada yang pasti. jika 2011 adalah tahun kebaikan, dimana semua berjalan semestinya. bukankah tidak perlu kita menyambutnya dengan gelak tawa dan merah merona, karena 2012 belum tentu sama. namun agaknya bukan itu. 2011 tidak demikian, justru sebaliknya. 2011 adalah tahun penuh duka, penuh durja, nestapa dan tahun penuh luka. maka kita berpesta pora atas kepergiannya. bukankah seperti itu?
lagi-lagi, semua berada dalam tanya. Mata itu, senyum itu, dan semuanya. Tiada yang pasti. Lalu apa symbol dari kembang api? Apakah sebuah symbol kebahagiaan? Atau symbol apa? Kenapa harus kembang api? Bukankah api panas? Bukankah api membuat tubuh kita terbakar? Bukankah api adalah dzat syaitan? Bukankah api adalah neraka? Oh, lagi-lagi semua penuh Tanya.
Kenapa harus mercon? Yang meledak, mengagetkan banyak orang, memberikan ketakutan, dan menimbulkan asap serta kertas yang merisaukan pandangan. Apakah tahun baru sama dengan api? Yang membakar, panas, dan melukai? Apakah tahun baru sama seperti mercon? Yang meneror orang karena takut terkagetkan? Yang membuat dada berdegup takjub dan sakit?
Oh ya, kenapa juga harus terompet? Bukankah kata Tuhan terompet adalah symbol kiamat, dan kiamat berarti adalah kehancuran? Ah, siapa yang bisa menjawab ini? Semua dalam Tanya. Semua dalam kebingungan, kegalauan, dan akhirnya ‘mati’ dalam ketidak tahuan.
Semua dalam ketidak pastian. Karena kita telah ‘mati’. Kembang api itu penuh duka, karena tiada satupun tidak tahu maknanya. Sehingga kita telah digerakkan oleh sesuatu yang kita sendiri tidak tahu sesuatu itu. Eksistensi sebagai manusia yang berfikir telah mati. Karena kalau kita hidup, tidak mungkin akan ikut terombang-ambing dalam ketidak tahuan. Pasti kita bertanya. Untuk apa ini? Kita patut berduka. Wallohu’alam