Jumat, 11 Januari 2018
"Bukankah harusnya Pak Jokowi sudah cuti?" Ucap saya pada sekelompok teman yang menghubungi untuk menyambut kedatangan Pak Jokowi ke Blitar beberapa waktu lalu.
Mengingat posisinya sebagai calon presiden (petahana), dan ini momentum kampanye, seharusnya cukup diwakili Menteri terkait, atau mentoknya wapres.
Apakah kunjungan itu tidak sekaligus bisa disebut upaya kampanye? Sebab nyatanya tak sedikit timses yang hadir, bahkan berkerumun, meski untuk sekedar foto bersama atau ramah tamah.
loading...
Akan tetapi Pak Jokowi kesini dengan fasilitas negara. Jadi harusnya segala waktu tercurahkan untuk urusan negara, bukan yang lain. Apalagi ketemu timses dan relawan.
Karena itu saya tidak ikut menyambut, bahkan untuk sekedar ingin lihat pun. Meski 2014 silam saya mendukung beliau. Dukungan secara moril, menulis banyak hal tentang beliau, hingga "berantem" dengan pendukung capres lain.
Bahkan tulisan khusus saya tentang PKS misalnya, yang kontra dengan sikap-sikap politik berkait dengan pilpres, dibaca lebih dari 40 ribu netizen, diposting ke berbagai blog dan sosmed, ditanggapi oleh banyak kader PKS, bahkan ditanggapi via media terkenal mereka PKS Piyungan.
Suasana keras dan panas. Tidak lain sebenarnya, dukungan saya lebih karena faktor Pak Jusuf Kalla, dan Pak Dahlan Iskan yang akhirnya mendeklarasikan dukungan. Bukan faktor Pak Jokowi. Tidak ada minat untuk mendukung Gubernur DKI Jakarta 2 tahun tersebut.
Sayang tidak ada alternatif (calon lain) yang memuaskan, juga menyakinkan. Apalagi ketika "kartu agama" mulai dimainkan. Makin tidak berselera. Justru Pak Jusuf Kalla, yang jelas-jelas alumni HMI dan Ketua Dewan Masjid, tidak memainkan kartu itu. Itulah salah satu sebab kenapa saya ikut mendukung Jokowi-JK pada pilpres 2014.
Ingat surat suara pilpres 2014? dengan konstum kotak-kotak, keduanya tidak berpeci. Kontras dengan pasangan lawan.
Siapapun yang memainkan kartu agama, biasanya kualat. Sayangnya, Pak Jokowi kini sepertinya juga memainkan kartu itu, misal dengan menggandeng mantan ketua MUI.
Bagaimana kualatnya? Sederhana, seperti ketahuan tidak bisa baca Al Quran, keliru mengucapkan shalawat, atau ketangkap basah merayakan perayaan agama lain yang tidak dianut.
Sulit untuk respek dengan mereka yang memainkan kartu agama, apalagi hanya sekedar memanfaatkannya untuk kepentingan politik, sementara dirinya sendiri tidak secara khusus mendalami, atau menjalankan dengan baik.
Sudah banyak yang mendukung pasangan 01 dan 02, dengan retorika yang macam-macam. Ada yang mengalihkan dukungan, ada yang tetap setia. Ada yang akhirnya abstain. Mungkin memilih salah satu, namun tidak mendeklarasikan dukungan.
Saya pasti memilih lagi Pak Jokowi, andai Cawapresnya Prof. Mahfud MD. Juga mungkin memilih Pak Prabowo andai cawapresnya Prof. Din Syamsudin. Dengan capres yang sama, faktor cawapres jadi pertimbangan penting.
Dengan kondisi sekarang, mungkin saya tidak memilih. Atau mungkin memilih, namun tidak mendukung. Memilih diam-diam. []
Salam,
Ahmad Fahrizal Aziz

