Menjadi Manusia
Bulan ramadan selalu memberikan kesan tersendiri. Bagi saya, tidak saja by moment, tapi selalu ada hal lain yang nyangkut, misalkan seseorang, atau hal-hal lain yang menyertainya. Seperti lagu-lagu Opick, kapanpun saya mendengarkan –meski tidak pas bulan Ramadan—‘rasa ramadan’ selalu muncul. Saya sendiri mengenal lagu-lagu Opick dulu memang pas dibulan Ramadan.
Yang nyangkut di bulan ramadan pula –dan ini sedikit aneh—adalah mie instan plus nasi. Kesan ini bermula di tahun 2009, ketika itu baru menjadi mahasiswa baru dan harus tinggal di ma’had selama setahun. Masuk ma’had sekitar awal bulan juli hingga akhirnya, untuk pertama kalinya, menjalani ibadah puasa di Kota Malang.
Bedanya, kalau di rumah, makan sahur bisa tinggal ke dapur. Ingin menyeduh kopi juga tinggal memasak air di kompor. Kalau di ma’had (pondok) itu beda lagi. kita harus membeli, di pagi buta pula. Boleh memilih, membeli di kantin ma’had atau di warung sekitar kampus. Apalagi, masakan warung beda dengan masakan rumah. Masakan warung memang dibuat dengan skala besar, diperuntukkan kepada pembeli, sehingga bumbu-bumbunya pun juga disesuaikan.
Intinya, makan di warung (bagi saya pribadi) di jam-jam sahur semacam itu benar-benar tidak berselera. Apalagi mata masih kriyip-kriyip. Satu-satunya makanan yang rasanya nancep di lidah cuma mie instan. Tapi tidak mungkin kalau hanya makan mie untuk berpuasa, pasti paginya sudah lapar. Maka ditambahlah nasi. Mie instan plus nasi jadi ingatan tersendiri tentang bulan puasa di Ma’had, pada dinginnya Kota Malang di penghujung bulan Juli tersebut.
***
Bulan ramadan ternyata tidak membuat aktivitas surut, justru tambah banyak. Apalagi jika mengikuti organisasi. Undangan untuk mengisi pondok romadon, pesantren kilat, kajian dll juga semakin banyak. Apalagi jika kuliah sedang tidak libur. Biasanya undangan itu datang dari sekolah-sekolah yang ingin melibatkan mahasiswa atau aktivis mahasiswa dalam agenda mereka.
Kesan tentang ramadan juga cukup kuat melekat diingatan saya ketika masih sekolah, terutama kala Aliyah. Karena waktu itu saya ikut Jurnalistik dan Rohis (Kerohanian Islam). Ada beberapa undangan, di rohis ada safari ramadan ke masjid-masjid sekolah sekaligus berbuka bersama. Dulu ada persatuan rohis sekolah yang bernama FKI (Forum Komunikasi Islam). Di Jurnalistik juga ada undangan kegiatan, salah satunya ke MAN 3 Kediri dan SMKN 1 Blitar.
Itu belum termasuk undangan buka bersama dengan keluarga, teman tsanawiyah, teman SD, dll. Ramadan memang memiliki romantikanya tersendiri. Ajang silaturahim, menjaring kembali orang-orang yang lama tak bersua. Apalagi di era sosmed ini. Dengan teman alumni kelas bahasa saja, kami punya group di facebook dan wa. Belum group-group yang lain.
Tapi segencar apapun komunikasi di sosial media, tetap tak mampu menggantikan tatap muka. Bertatap muka, berbincang, melihat ekspresi dan suara langsung, menjadikan kita kembali menjadi manusia seutuhnya. Pertemuan langsung membuat romantika itu semakin nyata.
Pertemuan itu biasanya juga berlanjut ketika pulang kampung, di Mushola sekitar, ketika tarawih kita bertemu dengan teman dan tetangga yang jarang sekali kita ajak berbincang karena kesibukan atau aktivitas pribadi.
Tahun ini, saya bisa shalat tarawih perdana di Mushola dekat rumah. Ternyata ada banyak yang berubah. Teman-teman banyak yang merantau, bekerja atau kuliah ke kota lain. Namun ada semakin banyak anak-anak kecil dengan wajah baru, generasi baru.
Meskipun, formasi shaf hampir tak berubah. Shof paling depan diisi yang sudah sepuh-sepuh, yang sekarang terlihat makin sepuh. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Meski tidak selalu komplit. Ada yang sudah tiada. Moment shalat tarawih di mushola dekat rumah tersebut seolah menjadi pengingat tersendiri, bahwa generasi silih berganti. Termasuk tahun ini, untuk pertama kalinya saya lalui tanpa Mbah Kakung yang meninggal 16 April lalu.
Tapi ada satu sosok yang tak pernah padam energi spiritualnya, seorang Kyai Kharismatik, lebih sepuh dari Almarhum Mbak Kakung saya, namun masih bisa mengikuti tarawih komplit 23 Rakaat. Shafnya paling depan, pas dibelakang Imam. Posisi yang tak pernah berubah sejak (mungkin) saya pertama kali tarawih di Mushola itu, sampai sekarang. Tema ceramahnya pun hampir-hampir juga tak berubah. Namanya KH. Bashori, atau yang akrab di sapa Mbah Bas.
Mbah Bas yang punya Mushola plus TPA di dusun Klece timur. Tempat saya belajar agama dasar, dari Iqra sampai Al Qur’an, sampai diwisuda, sebelum akhirnya melanjutkan ke Madrasah Diniyah Darussalam, yang lokasi mengajinya dulu satu gedung dengan SDI Lukmanul Hakim daerah Pandean, baratnya kantor kelurahan Kademangan.
Di bulan ramadan ini, energi spiritual memang tengah berada di puncaknya. Meski energi fisik menurun di jam-jam kerja karena tidak makan dan minum. Namun energi spiritual juga memberikan dampak yang cukup dominan, termasuk untuk menulis. Keinginan untuk membuat catatan ramadan ini sudah terbersit sejak empat tahun lalu, dan semoga bisa terlaksana tahun ini. 30 hari full puasa, dan 30 seri catatan ramadan.
Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga ramadan tahun ini bisa melatih diri kita agar menjadi lebih baik kedepannya. (*)
Blitar, 1 Ramadan 1437 H
