Mengurangi Interaksi di kehidupan maya




Oleh : A Fahrizal Aziz

Gadget atau smartphone memang menjadi candu, meski tidak selalu dalam konotasi negatif. Banyak yang positif pula. Dua ‘benda pintar’ tersebut memudahkan kita berinteraksi dengan banyak orang, dan menggali banyak informasi. Beberapa efek negatifnya, yang barangkali menjadi perhatian serius adalah, melahirkan jiwa-jiwa individualis, bahkan sampai pada anti sosial.

Di kalangan anak-anak, yang harusnya lebih dominan kinestetiknya dengan permainan-permainan yang melibatkan fisik, justru kini banyak tergantikan dengan game-game online. Hal tersebut kadang didukung oleh orang tua, dengan alasan agar anak tidak main keluar rumah.

Di beberapa tempat umum, semisal di halte, bank, dll sering kita dapati orang tidak saling menyapa dan sibuk dengan gadget atau smartphonenya masing-masing. Beberapa ada yang sibuk bermain game, chatting di sosmed, atau sekedar scanning berita-berita di media online. Seolah, kemayaan kini memiliki dunia yang benar-benar real. Kehidupan yang serba terjangkau, hanya dari gadget atau smartphone yang tak lebih besar dari kotak televisi di rumah.

Fungsi gadget

Gadget sebenarnya memiliki fungsi yang lebih bermanfaat ketimbang mewadahi individualisme seseorang. Untuk bisnis misalkan, untuk menggali informasi, serta untuk memperluas pergaulan. Sosial media, tidak harus selalu menjadi luapan emosi, serta berkirim keluh kesah. Ada banyak hal positif yang bisa dilakukan.

Memiliki akun media sosial pun juga harus memiliki tujuan, karena bagaimana pun, sosmed adalah ruang publik. Jangan sampai ruang publik digunakan untuk meluapkan hal-hal yang privat apalagi rahasia. Kita harus bisa membedakan mana ruang publik, mana ruang privat, dan mana ruang rahasia.

Gadget bisa dimanfaatkan untuk membaca artikel-artikel bermanfaat. Bisa juga untuk menggali informasi-informasi terhangat dari media online yang memang sudah kredibel, bukan media online yang penuh propaganda. Gadget juga bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan gagasan, sekaligus mengasah kecakapan kita berkomunikasi melalui tulisan.

Batasi interaksi dengan kehidupan maya, jika memang bukan sesuatu yang urgen. Karena interaksi di dunia nyata juga tak kalah penting. (*)

Blitar, 7 Mei 2016
A Fahrizal Aziz