Senin, 1 Juli 2019
Teman lama menelepon, minta ijin untuk menggunakan nama Paguyuban Srengenge, namun untuk Ponorogo. Tempat saat ini ia tinggal, dan tempat ia membangun aktivismenya.
Kenapa harus minta ijin? Jawab saya. Toh meski nama Paguyuban Srengenge itu dari saya, namun dialah yang awal mendesain konsep logonya, berupa tulisan dengan pena yang sekilas mirip sinar matahari (srengenge).
"Biar nggak perlu bikin brand baru," Ucapnya.
Paguyuban Srengenge memang kami cetuskan sejak di Malang. Sejak dia masih menjadi ketua umum PC IMM Malang, yang saya sempat jadi "tim suksesnya".
Meski kami tak selalu sejalan, untuk urusan politik. Iklim di Malang sangat keras dan kompetitif, sementara kami dari komisariat yang gairah politiknya tidak bisa dibilang tinggi.
Bisa mengusung sosoknya menjadi ketum cabang kala itu, barangkali adalah sejarah baru yang akan sulit diulangi. Sulit sekali kader dari kampus non UMM duduk menjadi ketua cabang.
Karena saking keras perbedaan cara pandang politik dan sikap keorganisasian, sampai kami pun pecah kongsi. Saya mundur dari kabid riset dan pengembangan keilmuan, mundur dari struktur PC IMM Malang yang diketuainya.
Maka untuk menjembatani beragam perbedaan dalam urusan organisasi dan politik itu, kami membuat wadah Paguyuban Srengenge tersebut, agar tetap bisa ngopi bareng.
Lantas saya infokan itu kepada ketua Paguyuban Srengenge Blitar, bahwa akan lahir "cabang" Ponorogo. Haha
Maka kamipun berbincang, soal kerinduan pada dunia keilmuan, wacana, dan "asupan gizi" intelektual yang harus dipenuhi, di tengah suasana pergerakan yang didominasi oleh transaksi dan negosiasi. Melelahkan, bukan?
Namun mengerakkan forum atau komunitas semacam itu juga tidak gampang. Tidak ada duit-nya, dan harus super telaten nan istiqomah. Itupun belum tentu mendapat dukungan.
Bahkan respon pertama ketika Paguyuban Srengenge muncul di Blitar, ada yang berkomentar begini : apa di dalam organisasi kurang wadah, sampai harus bikin wadah baru?
Lantas saya jawab saja, ibarat kapal besar, selalu punya sekoci atau kapal kecil. Lagipula, kan hanya Paguyuban? Bukan organisasi. Paguyuban hanya kumpulan sekelompok orang, yang punya minat sama.
Tidak punya struktur yang komplit, tidak punya AD/ART, dan terserah mau dihidupkan atau dibiarkan mati.
Namun hadirnya sekoci semacam itu mungkin bisa sedikit meletupkan api keilmuan, sedikit mengendorkan saraf otak yang kaku karena harus berhadapan dengan realitas politik dalam "kapal besar", atau pekerjaan yang memacu tubuh layaknya mesin produksi.
Pilihan untuk menghidupkan gerakan literasi semacam itu bukanlah pilihan yang populis. Meski barangkali bisa membuat hidup semakin menyala-nyala.
Jangan pula dianggap itu sebagai pelarian karena tidak nyaman dengan "kapal besar". Sebab ada saatnya semua memang harus dilalui. Seperti Sutan Sjahrir yang sebenarnya tidak terlalu suka politik. Ia lebih suka hidup bohemian ; nonton bioskop, berdansa atau ngopi di kafe mahal.
Namun keadaan membuatnya harus bergelut dalam dunia pergerakan, politik, menjadi perdana menteri pertama, sampai berkonflik dengan rezim Bung Karno hingga akhir hayat.
Paguyuban Srengenge di Ponorogo mungkin lebih diuntungkan karena ada kampus besar, juga jadi lokasi salah satu pesantren besar. Meski apakah iklim literasinya lebih baik dari Blitar, atau justru sebaliknya, saya juga kurang tahu.
Selamat bersenang-senang dengan niat baik dan tujuan mulia tersebut. []
Salam,
Ahmad Fahrizal Aziz
Bit.ly/catatanFahrizal

