Ber-Islam Diantara Jenggot dan Kopyah



Prof. A. Malik Fadjar melemparkan joke menarik tentang sebagian orang yang sering memperdebatkan jenggot dan kopyah untuk menilai keIslaman seseorang. Itu disampaikan dalam sambutan sarasehan Pra-Tanwir Muhammadiyah di Basement Dome UMM (07/02/19).
sumber foto : PWMU.co

Menurut mantan rektor UMM tersebut, betapa ribetnya orang yang beragama dengan cara pikir demikian, membuat suasana beragama jadi kurang happy. Islam semestinya dilihat secara lebih luas, sebagai solusi dari permasalahan hidup. Tidak sebatas mempermasalahkan jenggot dan kopyah.

Ungkapan tersebut menyambut tema tanwir Muhammadiyah di Bengkulu yaitu beragama yang mencerahkan. Beragama harus mencerahkan, membahagiakan, mencerdaskan, dan memberdayakan. Itulah poin yang diungkapkan Mendiknas era Presiden Megawati tersebut.

Ber-Islam secara lebih luas dan mendalam itu sudah dijalankan Muhammadiyah sejak awal berdirinya, bahwa Islam tidak sekedar ritual atau penampilan semata, namun bagaimana Islam bisa mengatasi masalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.

Sayang tantangan setiap zaman nyaris selalu sama, bahwa tak sedikit yang masih berpikir bahwa ritual, apalagi penampilan seperti jenggot dan kopyah sering jadi sumber perdebatan. Lebih menyedihkan jika fenomena tersebut terjadi di kalangan warga Muhammadiyah sendiri.

Karena itu pada agenda Tanwirnya kali ini, Muhammadiyah (masih) membahas tentang tema "Beragama yang Mencerahkan". Kalimat sederhana, namun akan selalu relevan sampai kapanpun. []

Blitar, 9 Februari 2019
A Fahrizal Aziz

loading...