Entah sejak kapan saya ketagihan kopi, meski sudah mencoba untuk berhenti, sembari menggantinya dengan teh atau coklat yang dibeli langsung dari kampung coklat. Namun tetap saja kopi tak tergantikan. Kenapa?
Padahal sudah ada jus buah yang rasanya lebih bervariasi. Jus juga lebih sehat untuk tubuh. Sudah ada juga kelapa muda yang segar dan sedikit gurih. Namun kopi tetap tak tergantikan.
Kata teman itu hanya sugesti. Apa karena faktor selera? Sebab buktinya ada juga yang tidak suka kopi, seperti musisi Arman Maulana. Makanya selalu nampak muda.
Ah, tetangga juga sempat bilang : sudah kurus ngopi pula. Lah memang berdampak? Ternyata itu ada penjelasaannya secara ilmiah. Padahal saya kira hanya mitos di masyarakat.
Alm. kakek saya memang pengopi dan sekaligus perokok berat. Badannya kurus sekali, bahkan nampak lebih tua dari umurnya. Dalam bahasa Jawa disebutnya kebrangas.
Tetapi kakek saya memang sudah tua. Kalau di KTP tertulis lahir tahun 1942. Namun ada pengakuan berbeda dari sepupunya. Sepupunya lebih muda dari kakek, tapi di KTP tertulis lahir 1935. Jadi sebenarnya kakek lahir sebelum itu. Karena orang dulu kalau bikin KTP pokok tanggal yang diingat saja. Perkiraan kakek lahir 1932, bukan 1942.
Akan tetapi meski kurus pendek, kakek saya dulu kerjanya di pandai besi. Ahli membuat pisau, berang, celurit, dan mungkin keris. Kerja di pandai besi tentu harus punya stamina yang kuat.
Oke balik ke topik. Kenapa saya jadi ketagihan kopi? Meski agak kurang setuju dengan kata ketagihan. Ketagihan itu berarti, ada yang ganjil kalau tidak melakukannya. Seperti pusing, badmood dsj.
Pernah mencoba seminggu tak ngopi, rasanya baik-baik saja. Meski rasa ingin ngopi itu selalu ada. Biasanya menggantinya dengan teh, terutama teh hitam.
Apa mungkin suka ngopi waktu kuliah? Yang semasa di Malang sering pulang tengah malam, nongkrong di warung kopi sembari mencari wifi, atau ngopi sambil ngobrol dengan teman-teman membahas kondisi bangsa dan negara. Aih, kondisi diri sendiri aja tak karuan.
Bisa jadi pula karena terprovokasi buku yang berkaitan dengan kopi? Semisal novelet "filosofi kopi" karya Dee Lestari?
Rasanya kalau ngopi itu ada sensasinya sendiri. Seolah ada tastenya. Fikiran jadi lebih fokus dan tajam, karena efek cafein. Padahal, teh juga memiliki kandungan tersebut meski tak sekuat kopi.
Akhir-akhir ini saya mencoba mengurangi ngopi. Semoga berhasil.
Terima kasih sudah membaca curahan hati ini.
Blitar, 4 Mei 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
