Andai anda menjadi Alvin Toffler sekitar setengah abad yang lalu, kira-kira bagaimana cara mendeskripsikan kegalauannya? Atau paling tidak anda bertemu dan mengenalnya ketika bumi masih ‘gelap’ seperti rimba. Kala itu Toffler bersabda: “Masa mendatang, dunia akan diliputi cahaya. Orang-orang bisa dengan mudah saling sapa meski dalam jarak yang begitu jauh. Bumi pada masa mendatang ibarat sebuah kotak Pandora. Begitu ajaib” mendengar kata-katanya mungkin kita akan tertawa, ditengah pepohonan yang lebat, yang terang hanya terpancar dari matahari pagi dan siang, Toffler berseloroh tentang ramalannya yang autis, gila, dan mungkin bodoh. Bagaimana munkin bumi akan menjadi sebuah kotak yang sempit?
Karena masa itu, manusia tengah menikmati hidupnya dengan ‘La Noche’. Sebuah istilah yang direperesentasikan oleh Jore Luis Borges, seorang penyair Argentina, yang berarti malam hari. Jangankan dunia akan diliputi cahaya, kita bisa duduk berpendar lampu temaram saja adalah sebuah kejaiban. Apalagi dengan membaca-baca buku-buku. Buku adalah benda yang teramat istimewa. Ya, ketika Bumi masih menikmati masanya menjadi ‘La Noche’.
Namun ketika kita sebagai manusia pelaku abad 21, membaca ramalan Toffler. Maka kita akan berkata “siapa yang bodoh? Siapa yang gila?” Alvin Toffler benar. Bahkan ketika kala itu banyak orang mencemoohnya, dia berkata “ suatu ketika, Manusia akan tercengang jika masa itu tiba. Masa dimana dunia diliputi cahaya” dan kini terbukti. Mungkin kala itu orang-orang lupa jika ramalan Toffler bukanlah didasarkan pada sihir dan mantra-mantra. Tapi dari sebuah analisis mendalam sebagai seorang pekerja Jurnalis dan penulis, baru kemudian ia disebut futurist (peramal).
Hari ini, manusia memang tidak berjarak. Teknologi telah menjelmakan sesuatu yang dulu diangap tidak ada. Teknologi pula yang telah mempersonifikasikan ketidakmampuan sebagian orang membaca suasana. Ya, Toffler adalah salah satu dari sekian juta yang mampu ‘membaca’ disaat yang lain ‘buta’. Siapa yang sadar, jika diabad 21 akan muncul teknologi super cangih yang mampu menggantikan kesunyian, mengusir kegelapan, bahkan ‘membunuh’ Tuhan. Istilah yang dipopulerkan Nietzse.
Hari ini kita bisa dengan mudah bercanda dibalik dinding jarak yang mungkin tak mampu ditempuh oleh raga. Hari ini kita bisa ‘melihat’ sesuatu yang dulu tak terlihat. Sudut-sudut terpenting dibaian dunia, aya hidup berbagai Negara, hingaa wajah-wajah para ‘pekerja’ hidup yang kita tak akan mampu menjabat tangannya. Inilah abad 21, suatu abad yang berjarak Nampak dekat, dan hidup seakan tiada sekat.
Andaikan saya mampu kembali ke masa itu, saya akan menambahkan ramalan Toffler: “Ya, masa depan bumi memang akan berpendar cahaya. Disetiap sudut akan ada cahaya. Karena dengan cahaya itu semua akan menjadi terang dan kita bisa melihat banyak hal. Namun Cahaya itu akan menjelmakan dua hal: Berkah atau kutukan” karena cahaya, tidak hanya membuat kita mampu ‘melihat’ namun juga telah membakar sebagian.
Fedreric Nietzse, bahkan dengan kata yan mengerikan berucap “Cahaya itu telah membuat Tuhan menemui ajalnya” atau A. J Toynbee yang dengan khawatir mewanti-wanti “Cahaya itu, telah menjadikan peradaban kita bergantung pada dahan yang lapuk. Nyaris kita mati terjatuh” oh, lalu bagaimana dengan abad 21? Abad dimana cahaya berpendar ria, Berjaya, bahkan sangking panasnya.
Cahaya itu memang telah membakar, serupa penindasan di Paletina yang tak kunjung usai, hegemoni terhadap Irak, Afganistan, Libya, dan belahan bumi yang teraniaya. Cahaya itu bernama kapitalisme, yang telah membunuh hajat hidup orang-orang miskin. Menjadikan mereka manusia setengah iblis yang harus diperlakukan semena-mena. Cahaya itu serupa budaya, yang telah mengobrak-abrik karakter kaum muda dengan busana ‘telanjang’nya, seks, pesta pora, dan bentuk kebakaran yang sangat akut. Inikah kutukan?
Eropa yang merupakan awal mula terbitnya cahaya, sudah benar-benar terbakar. Liberalisme, seks, kapitalisme, hedonism, dan materialisme telah menjadi akar budaya. Tuhan hanya berupa symbol-simbol: gereja, lonceng, paskah, natal, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan Amerika? Ya, mereka adalah tongkat estafet cahaya, yang sudah benar-benar terbakar oleh kekuasaan dan kebiadaban terhadap Negara-negara ‘La Noche’. Lalu bagaimana dengan Asia? Atau Indonesia? Mari kita bahas.
Di asia, masih serupa ‘La Noche’. Meski Jepang, Cina, dan Korea telah mendeklarasikan diri sebagai cahaya. Dan bangsa Arab, mayoritas Islam seperti Indonesia dan Malaysia juga masihlah serupa ‘La Noche’ namun akhir-akhir ini tak terkecuali mereka berpendar cahaya, meski bukan berasal dari sumbu asli bangsanya. Lihatlah, di Negara kita Indonesia. Anak-anak muda sibuk nonton korea, berkencan dengan pacarnya, shopping, dan aneka kelucuan yang terkadang membuat mereka seperti bukan jati dirinya.
Tuhan juga hanya sekedar symbol-simbol. Banyaknya masjid-masjid, kampus-kampus yang berlabel agama, sekolah-sekolah yang berlabel agama, departemen agama. Ah, korupsi, hukum yang tak adil, money politic, kekuasaan dan kemewahan telah membakar eksistensi kita. Ya, Cahaya yang berpendar adalah serupa kutukan.
Lalu bagaimana dengan berkah? Ya berkah adalah ketika kita tidak mau terbakar oleh cahaya. Apakah kita harus menyalahkan cahaya? Tidak, tapi berhati-hatilah. Indonesia, melalui anak-anak mudanya sudah mulai terbakar. Meski belum hangus, namun jika seiring waktu kita tetap membiarkan cahaya ‘membakar’ bukan ‘menerangi’ maka kita akan benar-benar mati. Seperti eropa, Amerika dan sebagian Negara Asia. Indikasi mati adalah ketika tak lagi menggunakan hati nurani, kesopanan, dan toleransi terhadap alam.
Caranya hanya dua: biarkan cahaya menerangi dan mari menghidupkan Tuhan. Minimal, ‘La Noche’ akan kembali berkolaborasi dengan Cahaya. Dan kita yang terbakar, harus segera mematikan api-apinya. Karena kalau kita telah hangus terbakar, persis seperti kata Buya Syafii Maarif “Jasadnya hidup, namun hatinya lumpuh bahkan mati”
Catatan Hitam
- Fahrizal Aziz
Blitar, 31 Januari 2012
0 komentar:
Poskan Komentar