Sudah sejak lama saya mengagumi Buya Syafii Maarif, namun ketika membaca novel Si Anak Panah (novel kedua yang menuliskan kisah hidup Buya Syafii Maarif, setelah Si Anak Kampung) saya seakan mendapati sosok Buya yang sangat jauh dari angan-angan saya selama ini. Bahkan sangat berbanding terbalik.
Dalam Pikiran saya, Buya Syafii adalah anak konglomerat yang hidup serba berkecukupan serta terfasilitasi segala apa yang dibutuhkannya, termasuk Pendidikan. Mengingat, awal mula saya mengagumi Buya Syafii adalah ketika membaca kumpulan artikelnya yang dibukukan dalam judul menerobos Kemelut. Bahasanya yang cair dan Indah serta muatan-muatan Keilmuan yang tinggi, sangat mengisaratkan Jika tokoh ini pastilah hidup dalam lingkungan yang baik dan mendukung iklim akademiknya, ternyata saya salah besar.
Dalam Novel si anak panah, kehidupan Buya Syafii ketika muda ternyata sangat mengenaskan. Hidup dalam kemandirian dan terombang-ambing dalam arus yang tak menentu. Bahkan Buya Syafii telah ditinggal pergi Ibunya ketika masih Bayi serta ditinggal pergi ayahnya ketika ia tengah menuntut Ilmu di perantauan. Walhasil, Buya harus memikirkan bagaimana cara mempertahankan hidupnya sendiri.
Buya Syafii bahkan pernah menjadi guru les Privat, mengajar di daerah pedalaman di desa pohgading Lombok timur, menjadi tukang besi hingga mandor, karyawan toko kain, berjualan ternak, membuka warung kelontong, hingga menjadi guru di STPN sembari melanjutkan kuliahnya di Universitas Cokroaminoto.
Seakan tak percaya, jika Buya Syafii muda dulu telah banyak berkelindan dengan kehidupan yang susah dan tidak memihak. Namun kini saya bisa mengenalnya sebagai salah seorang tokoh besar dan Intelektual Bangsa yang santun dan Progesif. Melalui setiap kata-kata dan goresan penanya, dia mampu menghadirkan inspirasi dan semangat yang terus berkobar.
Buya Syafii Maarif mungkin adalah salah seorang tokoh bangsa yang langka di negara ini. Ia sangat konsisten dengan apa yang dikatakan, keras dan tahan banting. Tulisannya sejuk dan menyentuh jika dibaca, agaknya butuh waktu yang sangat lama untuk bisa menghadirkan Intelektual yang tidak hanya berwawasan luas, namun juga Shaleh dan peduli dengan kondisi bangsa.
Novel itu, paling tidak telah menagajarkan sesuatu yang sangat berharga kepada saya: Jika seseorang tetap mampu berjalan meski tengah berada dalam keterbatasan. Buya Syafii misalkan, ditengah hiruk pikuk kehidupannya yang curam dan berliku, namun dia masih tetap konsisten dalam mencari Ilmu. Dan itulah yang membuatnya kini terkenang sebagai tokoh bangsa.
Karena sebenarnya yang membatasi diri kita untuk berkembang bukanlah kedaan yang sulit, melainkan persepsi hitam yang mungkin telah meracuni keyakinan kita: Jika keterbatas bukanlah sebuah penghalang. Kita telah belajar dari kehidupan Buya Syafii Maarif. Jika seorang yang buta masih bisa hidup dan berkarya dalam kegelapan, kenapa kita yang mampu menatap matahari harus tunduk dan menyerah terhadap keadaan yang tidak memihak?
Sebuah Novel yang sangat Inspiratif. Terimakasih Buya Syafii Maarif. Wallohu’alam
0 komentar:
Poskan Komentar