“Ini bukunya Orang kafir ya, kok Orang bukan Islam nulis buku tentang Islam? Jangan-jangan Orientalis ni. Awas Lho, saran saya jangan baca buku-buku karangan Orientalis, karena nanti sampean bisa tersesat dengan pemikiran mereka,” respon salah seorang teman
Saya sempat terkejut dengan sebuah sifat penolakan itu. Padahal saya hanya ingin memperlihatkan sebuah kutipan yang menurut saya menakjubkan “Ketika Islam berada di puncak peradaban (dahulu) pengaruhnya terhadap bangsa lain sungguh tiada tandingannya.” Bahkan Le Bon melanjutkan “Ketika pusat-pusat Islam di Spanyol tengah berada pada puncak kecermelangannya, pusat-pusat Intelektual di barat hanyalah berupa benteng-benteng perkasa yang dihuni oleh bangsa yang merasa bangga atas ketidakmampuannya membaca dunia”[1]
Bahkan di buku seorang Orientalis sendiri memuat isi yang sangat memuji Islam sebagai salah satu bekas peradaban cemerlang. Maka, sikap menutup diri seperti itu, saya kira malah hanya akan menenggelamkan diri kita dalam kebodohan dan tempurung yang sempit. Bahkan dia berkata pada saya
“Awas Lho, pemikiran sampean tak lihat sudah mulai Liberal dan tak lihat buku-buku sampean juga banyak karangan orang-orang kafir. Berhati-hati saja, jangan sampai sampean terjerumus.”
Saya tidak tahu apa ukurannya menilai saya Liberal. Karena hari ini, menurut saya kita umat Islam tengah krisis tokoh Intelektual. Hari ini kita susah menemukan tokoh-tokoh seperti Al Farabi, Al Kwarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun hingga Muhammad Abduh. Perkembangan Keilmuan pasca runtuhnya kerajaan turki usmani telah luntur dan hanya menyisakan puing-puing cerita bisu.
Padahal, jika kita mau merunut sejarah. Ibnu Sina, Rusyd dan tokoh besar Ilmuan Muslim yang lalu juga banyak belajar dari pemikiran ilmuan Yunani seperti Socrates, Plato, maupun Aristoteles. Dan Lucunya, tokoh-tokoh besar Barat yang berkembang akhir-akhir ini seperti R.H.C Davis, G.H Bousquet hingga C. Snouck Hurgronje juga belajar dari pemikiran ilmuan Muslim. Maka Jika kemudian kita harus menutup diri terhadap karya orang Kafir, itu hanya akan menjerumuskan kita pada stagnansi Keilmuan, karena hari ini tidak bisa kita pungkiri jika pemegang estafet Peradaban Islam bukanlah umat Islam sendiri, melainkan negara-negara barat.
Lagi pula ketika kita belajar dari karya-karya ilmuan barat itu, kita akan semakin memahami perkembangan peradaban barat yang menurut Nietsze “Sudah tak ber-Tuhan” bahkan R.H.C Davis dalam bukunya yang berjudul A History of medieval Europe: From Constantins to saint Louis[2] menulis “di mesir dan Siria, hanya sekelompok Minoritas Kristen saja yang masih beriman kepada gereja. Bahkan di Afrika utara, tempat lahirnya St. Augustine, gereja kristen telah punah sama sekali.
Paling tidak, dengan mempelajari karya-karya Orientalism atau tokoh-tokoh barat itu, maka kita juga tengah belajar Peradaban mereka dan suatu ketika mungkin kita mampu menemukan titik kelemahan peradaban barat dan kembali mengeluarkan identitas Islam sebagai tongkat estafet selanjutnya. Meskipun itu bukan pekerjaan mudah. Namun, sikap menutup diri dan eksklusif, justru akan semakin memperkeruh perkembangan keilmuan dalam Islam.
Dengan ini saya juga tahu, jika Islam sangatlah gagal mengelola warisan peradabannya. Itu yang ditulis juga oleh Edward Said “antara tahun 1800-1950 tidak kurang 60.000 buku ditulis ilmuan barat tentang Timur dekat (daerah arab dan sekitarnya yang kala itu dikuasai Islam) dan Islam tidak mengimbanginya sedikitpun”[3]” maka tak salah jika kemudian Barat mampu merebut Peradaban Islam yang cemerlang itu, karena barat telah lama melakukan kajian dan riset tentang peradaban Arab.
Maka, jika umat Islam terus menutup diri terhadap karya dan pemikiran Orientalism atau Non Muslim, maka saya kira mimpi untuk kembali menggaungkan Islam hanyalah sebuah mimpi. Ibaratnya hari ini Masyarakat Islam justru bangga dengan ketidak berdayaannya. Wallohu’alam
0 komentar:
Poskan Komentar