kalender Islam

Welcome

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, SILAHKAN BACA CATATAN-CATATAN SAYA DIBAWAH INI. SUPAYA LEBIH ENAK, SEBELUM MEMBACA SILAHKAN PLAY LAGU DIBAWAH INI

Pena Sang Perindu

Michi no

Sabtu, 19 November 2011

Para Pembunuh Tuhan


Oleh: Imm. Fahrizal Aziz*
Tulisan ini, bukan bermaksud menyaingi statemen yang pernah dilontarkan oleh Frederich Nietzsche dalam bukunya yang berjudul Of the Apostates yang berbunyi “The Gods are dead but They have died from laughing, on hearing one God claim to be the only one”[1] namun lebih menyoroti praktek agama kaum elit yang terkadang berkelindan dengan sikap-sikap “anti” Tuhan. Yang pada abad ke 20 ini dinamai Buya Syafii Ma’arif sebagai Peradaban tanpa Cinta.[2]

Pasca memudarnya Dinasti Turki Usmani dan eropa mengalami Renaisans yang luar biasa, fungsi agama seakan terbenam dalam kolong kehidupan. Terlebih pasca Revolusi Industri dan Ledakan Teknologi abad ke 20, terjadi Hegemoni besar-besaran serta eksploitasi sumber daya alam yang kian tak terbendung. Dalam kurun waktu itu, dehumanisasi semakin merebak. Kaum pinggiran menjadi obyek paling menderita dalam revolusi peradaban akhir-akhir ini.

Inilah yang kemudian dikritik oleh Nietzshe “Jika Tuhan telah Mati”. Ledakan Teknologi abad ke 20 telah menjadikan Eropa dan Negara-negara super seperti Amerika bak srigala buas yang haus akan mangsa. Mereka menghalalkan darah bahkan nyawa manusia melayang untuk sebuah gairah menguasai dunia. Kasus Irak, Afganistan dan Libya bisa menjadi contoh. Perilaku ini telah meminggirkan agama yang pada awal munculnya selalu menyuarakan kemanusiaan. Ya, ledakan teknologi abadb 20 telah menyebabkan perilaku manusia lepas dari control Agama (Tuhan), maka tidak salah jika eksistensi Tuhan telah mati di benak mereka.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, terlebih di Indonesia. Nampakya perilaku itu mulai menjamur. Kasus kekerasan atas nama suku, agama, kriminalitas, hingga korupsi menjadi seruah legalisasi jika telah muncul bibit-bibit “pembunuh” Tuhan di Negara multicultural yang agama sebagai poros paling diagungkan. Bayangkan, Indonesia berdiri diatas enam agama yang hidup secara majemuk. Dalam bingkai Pluralisme, hal ini sebenarnya adalah prestasi yang luar biasa.

Namun apakah kesadaran akan kemajemukan hidup Bergama itu juga dibarengi dengan kesadaran akan eksistensi Tuhan dalam berperilaku dalam masyarakat? Atau Tuhan telah “dibunuh” juga untuk mengejar gairah kenikmatan dunia seperti jabatan dan harta yang melimpah, atau sebuah kebencian yang tak berkesudahan? Agaknya kita harus mencari jawabannya dalam ruang realita.

Dari sekian banyak ajaran agama, setahu dan sepaham saya semua mengajarkan pada pola kemanusiaan. Dalam tradisi Kristen, Yesus mengabarkan sebuah penghapusan dosa. Yesus berkorban untuk menyelamatkan orang-orang dari dosa yang menyebabkannya masuk Negara. Jelas, dalam konteks kehidupan sebenarnya Kristen juga bersuara untuk kemanusiaan.

Dalam Tradisi Budha, Sang Bodhisatwa Sidarta Gautama Merasakan sebuah fakta kehidupan yang sangat memprihatinkan. Ketika keluar dari Istana, Sang Budha melihat banyak Orang hidup kelaparan, kekurangan sandang, dan hidup menderita. Karena Sang Budha memiliki sense kemanusiaan, maka ia melepas tahta dan mengajarkan sebuah pola perilaku hidup sederhana. Hidup dalam pengembaraan, tidak makan daging, hidup dalam kesederhanaan, dan tidak melakukan seks. Budha kemudian juga mengajarkan sebuah sensitifitas kemanusiaan.

Islam, yang lahir abad ke 6 Masehi. Juga tidak kalah gencar mengkampanyekan kemanusiaan. Nabi Muhammad ketika setelah mendapat mandat dari Allah, ia mengabarkan sebuah ajaran yang mencengangkan. Yaitu dalam pola berperilaku, wanita memiliki hak yang sama, Zakat yang semula dikumpulkan oleh orang miskin dan diberikan orang kaya dialihkan jika si kaya lah yang harus membayar Zakat untuk si miskin. Islam mengajarkan sebuah prinsip egalitarianism (persamaan), dan menangkal segala bentuk penindasan.

Paling tidak, wacana diatas memberikan sebuah legitimasi jika Agama lahir untuk membawa visi kemanusiaan. Sekarang mari kita lihat pola perilaku elit birokrat kita yang Nampak kumuh. Berdebat di media, korupsi, memanipulasi data, makelar kasus, menjadi mafia hukum. Apa semua itu tidak berdampak? Tentu sangat berdampak dalam kelangsungan bernegara. Bayangkan, sebagian Pejabat kita masih hidup dalam garis kemewaan bak raja dalam istana, namun di sisi lain ada masyarakat yang hidup dalam lingkungan kumuh dan serba kekurangan. Bukankah ini sebuah ketimpangan yang sangat tidak humanis?

Perilaku Korup juga berdampak cukup besar dalam kehidupan bernegara. Seperti terkendalanya progam untuk rakyat, dana yang harusnya menjadi alat kesejahteraan malah ditimbun dan dinikmati segelintir orang, sehingga menyebabkan krisis pembangunan dan kepercayaan dan itulah sebenarnya akar dari krisis kemanusiaan.

Pelaku Kriminal, sebenrnya tidak melulu orang yang bermental bejat. Orang criminal banyak disebabkan karena factor [3]kebutuhan. Misalkan berawal dari kemiskinan, tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sementara desakan kebutuhan itu telah diambang nadi. Sementara elit pejabat, ulama, hingga orang-orang yang disekitarnya juga mulai apatis. Ini kemudian menimbulkan jiwa kriminalisme yang kronis. Mencuri, merampok, bahkan membunuh untuk mempertahankan serta memenuhi kebutuhan hidup.

Ketimpangan atau sikap apatis inilah yang kemudian menjadi senjata “pembunuh” Sabda Tuhan. Terlebih eksistensi terhadap teks-teks suci. Dimana banyak orang hidup dalam gelimang harta, sementara banyak yang juga hidup dalam jeratan duka. Jika kita mau membuka mata, sebenarnya ini bisa jadi bentuk neo atheism. Yang dalam Alquran sempat disinggung “Dan janganlah kamu seperti orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan kamu lupa kepada dirimu sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. Wallohu’alam


*Kabid Keilmuan IMM Komisariat Pelopor


[1] Nietzshe, “Of the Apostates” Thus Spoke Zarathustra III, hal 201.
[2] Syafii Maaif, “Peta Bumi Intelektualisme Islam”
[3] TQS. Al Hasyr : 19

0 komentar:

Sabtu, 19 November 2011

Para Pembunuh Tuhan


Oleh: Imm. Fahrizal Aziz*
Tulisan ini, bukan bermaksud menyaingi statemen yang pernah dilontarkan oleh Frederich Nietzsche dalam bukunya yang berjudul Of the Apostates yang berbunyi “The Gods are dead but They have died from laughing, on hearing one God claim to be the only one”[1] namun lebih menyoroti praktek agama kaum elit yang terkadang berkelindan dengan sikap-sikap “anti” Tuhan. Yang pada abad ke 20 ini dinamai Buya Syafii Ma’arif sebagai Peradaban tanpa Cinta.[2]

Pasca memudarnya Dinasti Turki Usmani dan eropa mengalami Renaisans yang luar biasa, fungsi agama seakan terbenam dalam kolong kehidupan. Terlebih pasca Revolusi Industri dan Ledakan Teknologi abad ke 20, terjadi Hegemoni besar-besaran serta eksploitasi sumber daya alam yang kian tak terbendung. Dalam kurun waktu itu, dehumanisasi semakin merebak. Kaum pinggiran menjadi obyek paling menderita dalam revolusi peradaban akhir-akhir ini.

Inilah yang kemudian dikritik oleh Nietzshe “Jika Tuhan telah Mati”. Ledakan Teknologi abad ke 20 telah menjadikan Eropa dan Negara-negara super seperti Amerika bak srigala buas yang haus akan mangsa. Mereka menghalalkan darah bahkan nyawa manusia melayang untuk sebuah gairah menguasai dunia. Kasus Irak, Afganistan dan Libya bisa menjadi contoh. Perilaku ini telah meminggirkan agama yang pada awal munculnya selalu menyuarakan kemanusiaan. Ya, ledakan teknologi abadb 20 telah menyebabkan perilaku manusia lepas dari control Agama (Tuhan), maka tidak salah jika eksistensi Tuhan telah mati di benak mereka.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, terlebih di Indonesia. Nampakya perilaku itu mulai menjamur. Kasus kekerasan atas nama suku, agama, kriminalitas, hingga korupsi menjadi seruah legalisasi jika telah muncul bibit-bibit “pembunuh” Tuhan di Negara multicultural yang agama sebagai poros paling diagungkan. Bayangkan, Indonesia berdiri diatas enam agama yang hidup secara majemuk. Dalam bingkai Pluralisme, hal ini sebenarnya adalah prestasi yang luar biasa.

Namun apakah kesadaran akan kemajemukan hidup Bergama itu juga dibarengi dengan kesadaran akan eksistensi Tuhan dalam berperilaku dalam masyarakat? Atau Tuhan telah “dibunuh” juga untuk mengejar gairah kenikmatan dunia seperti jabatan dan harta yang melimpah, atau sebuah kebencian yang tak berkesudahan? Agaknya kita harus mencari jawabannya dalam ruang realita.

Dari sekian banyak ajaran agama, setahu dan sepaham saya semua mengajarkan pada pola kemanusiaan. Dalam tradisi Kristen, Yesus mengabarkan sebuah penghapusan dosa. Yesus berkorban untuk menyelamatkan orang-orang dari dosa yang menyebabkannya masuk Negara. Jelas, dalam konteks kehidupan sebenarnya Kristen juga bersuara untuk kemanusiaan.

Dalam Tradisi Budha, Sang Bodhisatwa Sidarta Gautama Merasakan sebuah fakta kehidupan yang sangat memprihatinkan. Ketika keluar dari Istana, Sang Budha melihat banyak Orang hidup kelaparan, kekurangan sandang, dan hidup menderita. Karena Sang Budha memiliki sense kemanusiaan, maka ia melepas tahta dan mengajarkan sebuah pola perilaku hidup sederhana. Hidup dalam pengembaraan, tidak makan daging, hidup dalam kesederhanaan, dan tidak melakukan seks. Budha kemudian juga mengajarkan sebuah sensitifitas kemanusiaan.

Islam, yang lahir abad ke 6 Masehi. Juga tidak kalah gencar mengkampanyekan kemanusiaan. Nabi Muhammad ketika setelah mendapat mandat dari Allah, ia mengabarkan sebuah ajaran yang mencengangkan. Yaitu dalam pola berperilaku, wanita memiliki hak yang sama, Zakat yang semula dikumpulkan oleh orang miskin dan diberikan orang kaya dialihkan jika si kaya lah yang harus membayar Zakat untuk si miskin. Islam mengajarkan sebuah prinsip egalitarianism (persamaan), dan menangkal segala bentuk penindasan.

Paling tidak, wacana diatas memberikan sebuah legitimasi jika Agama lahir untuk membawa visi kemanusiaan. Sekarang mari kita lihat pola perilaku elit birokrat kita yang Nampak kumuh. Berdebat di media, korupsi, memanipulasi data, makelar kasus, menjadi mafia hukum. Apa semua itu tidak berdampak? Tentu sangat berdampak dalam kelangsungan bernegara. Bayangkan, sebagian Pejabat kita masih hidup dalam garis kemewaan bak raja dalam istana, namun di sisi lain ada masyarakat yang hidup dalam lingkungan kumuh dan serba kekurangan. Bukankah ini sebuah ketimpangan yang sangat tidak humanis?

Perilaku Korup juga berdampak cukup besar dalam kehidupan bernegara. Seperti terkendalanya progam untuk rakyat, dana yang harusnya menjadi alat kesejahteraan malah ditimbun dan dinikmati segelintir orang, sehingga menyebabkan krisis pembangunan dan kepercayaan dan itulah sebenarnya akar dari krisis kemanusiaan.

Pelaku Kriminal, sebenrnya tidak melulu orang yang bermental bejat. Orang criminal banyak disebabkan karena factor [3]kebutuhan. Misalkan berawal dari kemiskinan, tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sementara desakan kebutuhan itu telah diambang nadi. Sementara elit pejabat, ulama, hingga orang-orang yang disekitarnya juga mulai apatis. Ini kemudian menimbulkan jiwa kriminalisme yang kronis. Mencuri, merampok, bahkan membunuh untuk mempertahankan serta memenuhi kebutuhan hidup.

Ketimpangan atau sikap apatis inilah yang kemudian menjadi senjata “pembunuh” Sabda Tuhan. Terlebih eksistensi terhadap teks-teks suci. Dimana banyak orang hidup dalam gelimang harta, sementara banyak yang juga hidup dalam jeratan duka. Jika kita mau membuka mata, sebenarnya ini bisa jadi bentuk neo atheism. Yang dalam Alquran sempat disinggung “Dan janganlah kamu seperti orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan kamu lupa kepada dirimu sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. Wallohu’alam


*Kabid Keilmuan IMM Komisariat Pelopor


[1] Nietzshe, “Of the Apostates” Thus Spoke Zarathustra III, hal 201.
[2] Syafii Maaif, “Peta Bumi Intelektualisme Islam”
[3] TQS. Al Hasyr : 19

0 komentar kamu: