Alif Lam Mim, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya. Petunjuk Bagi mereka yang bertakwa (QS. Al Baqarah: 1-2)
Sengaja saya kutip dua ayat pertama dari surat Albaqarah untuk mengawali tulisan sederhana kali ini. Dua ayat tersebut, jika ditafsir ulang dan dimaknai lebih dalam serta syukur-syukur kalau dikontekstualisasikan dengan realitas Masyarakat Indonesia saat ini, mungkin bisa menjadi sebuah kritik yang mencengangkan.
Alquran lewat ayat diatas seakan memberikan sebuah keyakinan terhadap Umat Islam Jika Al Quran adalah sebuah petunjuk yang tidak sedikitpun ada keraguan padanya. Namun ada sebuah catatan di kalimat akhir ayat kedua. Al Quran hanyalah menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Siapakah orang-orang yang bertakwa? Lebih lanjut yaitu mereka yang beriman kepada yang Ghaib, yang mendirikan Shalat, dan Yang menafkahkan sebagian rejeki yang Kami anugrahkan kepada mereka (Ayat 3) dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat (ayat 4)
Jika kita tarik pada realitas bangsa kita saat ini, mungkin akan menyisakan sebuah tanda Tanya besar. Indonesia merupakan sebuah Negara dengan Jemaah Muslim yang terbesar di dunia. Logikanya, dengan jumlah Muslim yang mayoritas, tentu Kajian dan telaah serta Eksistensi Dalil Al Quran pun seharusnya juga paling mengemuka. Dalam artian, harusnya Bangsa Indonesia –dalam pemahaman Islam- menjadi Bangsa yang paling mendapat petunjuk karena Kitab suci Al Quran mengatakan jika Al Quran tidak memiliki keraguan dan petunjuk bagi mereka yang bertakwa? Jika kembali pada realita, timbul sebuah pertanyaan, Sudahkah Bangsa ini mendapatkan petunjuk?
Potret Kemiskinan
Realitas ini tidak bisa terbantahkan. Ini bisa terlihat dari contoh kecil saja dimana ketika moment zakat dan Qurban, banyak yang rela berhimpit-himpitan hanya untuk sebungkus beras dan daging. Pengemis dimana-mana, kelaparan hingga busung lapar menjadi sebuah tontonan yang biasa di televise. Padahal Al Quran telah berkata:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah: 177)
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al Insan: 8-9)
Potret Degradasi Moral
Kasus ini tak kalah heboh, Kasus Kriminalitas dan Kebobrokan moral juga kian hari kian menggelisahkan. Tidak usah jauh-jauh, silahkan update info berita harian, hamper tidak ada berita yang sepi dari kasus criminal. Apalagi yang lebih memprihatinkan jika pelaku kriminalitas itu adalah orang-orang elite serta kaum terdidik Bangsa ini. Seperti Korupsi, Tawuran antar Pelajar, Video Mesum, Pola masyarakat yang bebas, Miras, Narkoba, Pembunuhan, Pemerkosaan, budaya materialis dan Hedonis dan sebagainya. Semua menjadi sebuah potret yang sangat memprihatinkan. Padahal Nabi pernah bersadba:
Sesungguhnya aku diutus kedunia hanyalah untuk menyempurnakan Akhlak (HR. Muslim)
Orang Mukmin yang Paling sempurna Imannya ialah Orang yang paling baik budi Pekertinya (HR. Imam Ahmad)
Makanlah, Minumlah, Pakailah, dan bersedekahlah, jangan berlebih-lebihan (boros) dan janganlah untuk bermegah-megahan (HR. Abu Daud-Ahmad)
Serta Al Quran berkata:
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al Ankabut: 45)
Dari dua contoh diatas misalnya, kemudian kita bertanya, dimanakah eksistensi Al Quran atau Hadits selama ini? Kenapa kondisi Bangsa yang mayoritas Muslim dalam kenyataannya malah berbanding terbalik dengan beberapa Firman Tuhan dan Sabda Nabi? Paling tidak ada dua jawaban untuk pertanyaan ini.
Pertama, Mungkin Mayoritas Umat Islam di Indonesia masih ragu akan fungsi Al Quran sebagai petunjuk hidup. Sehingga banyak diantara kita yang lebih senang melalui jalan lain dan petunjuk dari arah lain yang tidak bersumber dari Al Quran dan Sunnah. Atau bisa juga masih banyak yang ragu akan eksistensi Allah dalam kehidupan ini, sehingga banyak yang mengacuhkan seruannya.
Kedua, mungkin saja banyak Umat Islam Indonesia yang Lupa akan jati dirinya sebagai Muslim. Banyak yang sudah tidak lagi membuka Al Quran dan Sunnah serta memahami serta mengamalkan isi dari Quran dan Sunnah itu. Atau ada yang sering membuka bahkan membaca Alquran, namun tidak memahami maknanya. Ya hanya sekedar membaca atau hafal saja namun melupakan substansinya. Sehingga Eksistensi Al Quran Nampak mandul dalam ruang realita dan hanya bergema di masjid-masjid saja.
Entah mana yang benar dari dua prasangaka diatas. Di akhir tulisan ini saya ingin berpesan, yaitu waspadai ayat yang akan saya kutip berikut. Jangan sampai kita menjadi salah seorang yang dimaksud dalam ayat ini:
Diantara Manusia ada yang mengatakan
“Kami Beriman Kepada Allah dan hari kemudian”
Padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman
Mereka Hendak menipu Allah dan Orang-Orang yang beriman
Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri
Sedang mereka tidak sadar
(QS. Al Baqarah:8-9)
Karena Bagaimanapun juga, banyak yang berlabel Muslim. Namun perilakunya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Wallohua’lam. Kebaikan dan kesempurnaan hanya milik Allah.
0 komentar:
Poskan Komentar