Jika sumpah Pemuda dianggap suatu hal yang sacral dan harus diperingati setiap tahunnya, saya kira tidak kemudian itu dimaknai secara simbolik dengan orasi dan berdemo di jalan-jalan kota, seminar-seminar, bagi-bagi selebaran dan sebagainya dan setelah peringatan itu kembali ‘lupa’. Namun peringatan itu bisa bersifat lebih reflektif pada diri pemuda akan makna yang lebih subsatntif dari isi sumpah Pemuda tersebut.
Seperti kita ketahui, ada tiga kalimat ikrar sumpah pemuda yang sangat fenomenal yaitu bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa persatuan yang satu yaitu Indonesia. “satu” jika dimakanai lebih dalam mengandung makna persatuan. Satu tanah air, bangsa, dan bangga berbahasa Indonesia. Tanpa memandang segala perbedaan yang kadang Nampak menyeruak dan meresahkan.
Fakta akhir ini ternyata agak terbalik. Makna “satu” dalam ikrar sumpah pemuda disadari atau tidak telah terjungkir dari pola hidup kebanyakan pemuda. Masih ada yang perang antar suku, tawuran antar pelajar bahkan pejabat pun ada yang saling baku hantam, perang idiologi yang Nampak menyudutkan satu sama lain, dan bahkan yang lebih kronis banyak pemuda kita yang hari ini melepaskan ‘baju’ kabangsaannya dan lebih bangga memakai ‘baju bangsa lain’.
Yang ingin lebih saya soroti adalah masalah terakhir ini. Yaitu hilangnya ‘baju bangsa’. Itu bisa terlihat dari pola hidup pemuda yang akhir-akhir ini lebih bersifat hedonisme, materialistis, dan individual. Pemuda kini lebih banyak berfikir “apa barang keluaran baru yang belum saya punya? Apa merek baju terbaru yang belum saya beli? Atau apa merek hp terbaru yang belum saya miliki?” dari pada memikirkan nasib bangsa “kenapa bangsa Indonesia kok tetap saja miskin? Kenapa korupsi meraja lela?” itu suatu conth kecil telah terbungkamnya ikrar sumpah pemuda itu.
Selain itu dari gaya berpakaian hingga produk-produk yang kita konsumsi akhir-akhir ini juga banyak berkiblat pada bangsa lain yang cenderung terbuka dan bebas. Belum lagi poa perilaku seperti seks bebas hingga hedonism yang sebenarnya jauh dari roh kebangsaan Indonesia. Mengingat Indonesia dibangun atas kerjasama, keikhlasan dan kepedulian semua pihak. Maka hari ini, berpa jumlah pemuda yang peduli dengan bangsanya?
Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa Indonesia dan spirit kebangsaannya malah menjadi suatu hal yang asing bagi Para Pemudanya. Dari segi fashion kebanyakan pemuda kita malah akrab dengan korea, jaan hingga paris. Dari segi makanan kebanyakan pemuda kita lebih akrab dengan mc. Donal, alfa maret, dll. Dan yang lebih parah dari segi moral bangsa kita mlah lebih dekat dengan paham materialistis, serta seks bebas yang merupakan kiblat berjalan orang-orang barat.
Maka dimana dimensi bangsa Indonesia yang santun? Peduli terhadap nasib bangsa? Ikhlas berjuang, gotong royong dan beradab? Sepertinya semua telah menguap bersama semakin majunya peradaban ilmu dan teknologi. Maka saya kira makna dari sumpah pemuda satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa itu tidak hanya sekedar teks-teks dan ikrar semu namun adalah sebuah pelecut kita untuk lebih kembali menunjukkan identitas bangsa Indonesia yang sebenarnya. Bukan semakin meneggelamkan kita dalam kerapuhan yang berdampak semakin hilangnya identitas kita. Wallohu’alam
0 komentar:
Poskan Komentar