kalender Islam

Welcome

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, SILAHKAN BACA CATATAN-CATATAN SAYA DIBAWAH INI. SUPAYA LEBIH ENAK, SEBELUM MEMBACA SILAHKAN PLAY LAGU DIBAWAH INI

Pena Sang Perindu

Michi no

Selasa, 18 Oktober 2011

Sepiring Nasi


Sedari tadi Umar hanya memandang sepiring Nasi yang telah siap tersaji bersama lauk pauknya, belum sedikitpun memebang apalagi hendak menyantapnya. Tatapannya pilu ke arah sepiring nasi itu. Entah kenapa, sejak beberapa hari ini Umar terlihat aneh. Dia sering termenung sebelum makan. Sampai-sampai teman Kosannya bingung.

“Kau ni kenapa Mar? Sakit?” tanya Boy, teman satu kosnya
Umar hanya menggelengkan kepala. Boy pun tak habis pikir dengan perilaku Umar akhir-akhir ini yang sangat aneh. Setiap akan makan dia selalu merenung didepan sepiring nasi. Entah, kenapa dia seperti itu.

“Ku Lihat tidak hanya sekali ini saja kau bersikap aneh seperti itu, menatapi sepiring Nasi sebenarnya apa yang terjadi padamu?”

Umar Menghela nafas, lalu menjawab pertanyaan Boy dengan tenang.

“Kenapa aku? Apa kau tahu Boy, makna dari sepiring nasi ini?”

“Ya sepiring nasi untuk satu porsi makan kan? Emang apa yang aneh?”

“menurutmu seberapa berharganya sepiring nasi ini?”

Boy semakin bingung, tapi dia menjawab saja
“Ya, hanya untuk sekali makan kan? Ribet sekali sih tinggal makan aja.”

“Boy, bagi kita mungkin sepiring nasi ini biasa. Tapi bagi saudara-saudara kita di ujung barat, timur, di sebuah dataran gersang dan perkampungan miskin, sepiring nasi ini sangatlah berharga. Sepiring nasi hari ini mungkin bagi mereka adalah penyambung nyawa. Makanya, terkadang saya ini merasa sedih ketika hendak melahap sepiring nasi ini. Karena mungkin di tempat nun jauh disana ada yang perutnya tengah perih menahan lapar.”

Boy terkejut dengan kata-kata Umar. Tak biasa-biasanya Umar berkata seperti itu

“Alangkah Bersyukurnya kita bisa mendapati ada sepiring nasi yang bisa kita lahap setiap hari dan kita bisa dengan bebas memilih menunya. Ah, begitu beruntungnya kita. Andai aku bisa memberikan sepiring nasi ini untuk satu orang kelaparan, maka begitu kenyangnya hatiku.”

“Dan apakah kau tahu Boy, karena tidak adanya sepiring Nasi inilah. Banyak orang menjual harga dirinya, mengemis, mencuri, merampok, hingga menjual diri. Andaikan kita peka dengan Nasib mereka, maka mungkin kasus kriminal tidak akan merajalela. Namun entahlah, kenapa Pra Koruptor itu bisa dengan tenang mengkorupsi uang rakyat, padahal Jika uang hasil korupsi itu di infaq kan ke Orang-orang miskin, mungkin akan sangat berarti.”

“Ironi sekali, disisi lain ada banyak orang yang sibuk memilih menu makanan di restoran-restoran mahal, namun dibelahan bumi lain ada juga yang tengah kelaparan mengharap keajaiban dari Tuhan. Ada yang tidur di kasur yang empuk dan nyaman dan berharap besok kan bangun dengan tubuh segar, ada juga yang tengah kedinginan di lorong-lorong jembatan dan tidak mengharapkan esok kan membuka mata. Ada yang sibuk berbelanja baju mahal di butik dan mall-mall ada juga yang tengah berbaju lusuh dan sobek-sobek, ada yang bingung menghabiskan uang untuk berpesta pora ada juga yang tengah mengikis saku untuk membeli sejumput nasi. Ah, begitu ironinya.”

Tak terasa, Umar menitikkan airmata. Namun dengan segera ia menghapusnya. Sementara Boy hanya termenung dalam lamunan sendunya, membayangkan dengan seksama kata-kata Umar.




0 komentar:

Selasa, 18 Oktober 2011

Sepiring Nasi


Sedari tadi Umar hanya memandang sepiring Nasi yang telah siap tersaji bersama lauk pauknya, belum sedikitpun memebang apalagi hendak menyantapnya. Tatapannya pilu ke arah sepiring nasi itu. Entah kenapa, sejak beberapa hari ini Umar terlihat aneh. Dia sering termenung sebelum makan. Sampai-sampai teman Kosannya bingung.

“Kau ni kenapa Mar? Sakit?” tanya Boy, teman satu kosnya
Umar hanya menggelengkan kepala. Boy pun tak habis pikir dengan perilaku Umar akhir-akhir ini yang sangat aneh. Setiap akan makan dia selalu merenung didepan sepiring nasi. Entah, kenapa dia seperti itu.

“Ku Lihat tidak hanya sekali ini saja kau bersikap aneh seperti itu, menatapi sepiring Nasi sebenarnya apa yang terjadi padamu?”

Umar Menghela nafas, lalu menjawab pertanyaan Boy dengan tenang.

“Kenapa aku? Apa kau tahu Boy, makna dari sepiring nasi ini?”

“Ya sepiring nasi untuk satu porsi makan kan? Emang apa yang aneh?”

“menurutmu seberapa berharganya sepiring nasi ini?”

Boy semakin bingung, tapi dia menjawab saja
“Ya, hanya untuk sekali makan kan? Ribet sekali sih tinggal makan aja.”

“Boy, bagi kita mungkin sepiring nasi ini biasa. Tapi bagi saudara-saudara kita di ujung barat, timur, di sebuah dataran gersang dan perkampungan miskin, sepiring nasi ini sangatlah berharga. Sepiring nasi hari ini mungkin bagi mereka adalah penyambung nyawa. Makanya, terkadang saya ini merasa sedih ketika hendak melahap sepiring nasi ini. Karena mungkin di tempat nun jauh disana ada yang perutnya tengah perih menahan lapar.”

Boy terkejut dengan kata-kata Umar. Tak biasa-biasanya Umar berkata seperti itu

“Alangkah Bersyukurnya kita bisa mendapati ada sepiring nasi yang bisa kita lahap setiap hari dan kita bisa dengan bebas memilih menunya. Ah, begitu beruntungnya kita. Andai aku bisa memberikan sepiring nasi ini untuk satu orang kelaparan, maka begitu kenyangnya hatiku.”

“Dan apakah kau tahu Boy, karena tidak adanya sepiring Nasi inilah. Banyak orang menjual harga dirinya, mengemis, mencuri, merampok, hingga menjual diri. Andaikan kita peka dengan Nasib mereka, maka mungkin kasus kriminal tidak akan merajalela. Namun entahlah, kenapa Pra Koruptor itu bisa dengan tenang mengkorupsi uang rakyat, padahal Jika uang hasil korupsi itu di infaq kan ke Orang-orang miskin, mungkin akan sangat berarti.”

“Ironi sekali, disisi lain ada banyak orang yang sibuk memilih menu makanan di restoran-restoran mahal, namun dibelahan bumi lain ada juga yang tengah kelaparan mengharap keajaiban dari Tuhan. Ada yang tidur di kasur yang empuk dan nyaman dan berharap besok kan bangun dengan tubuh segar, ada juga yang tengah kedinginan di lorong-lorong jembatan dan tidak mengharapkan esok kan membuka mata. Ada yang sibuk berbelanja baju mahal di butik dan mall-mall ada juga yang tengah berbaju lusuh dan sobek-sobek, ada yang bingung menghabiskan uang untuk berpesta pora ada juga yang tengah mengikis saku untuk membeli sejumput nasi. Ah, begitu ironinya.”

Tak terasa, Umar menitikkan airmata. Namun dengan segera ia menghapusnya. Sementara Boy hanya termenung dalam lamunan sendunya, membayangkan dengan seksama kata-kata Umar.




0 komentar kamu: