Mendengar Protes itu Kyai Dahlan hanya tersenyum, lalu beliau bertanya “Lho, memangnya kamu sudah mengamalkan surat Almaun to?” dengan tegas si santri menjawab “Lho, sudah Kyai. Bahkan setiap Shalat saya selalu membacanya.” Lagi-lagi Kyai Dahlan hanya tersenyum, lalu beliau memberikan instruksi “Ya Wes, hari ini kita sudahi ngajinya. Besok kita ngaji lagi, tapi ndak usah bawa kitab. Besok bawa saja beras, baju bekas, atau makanan yang bisa dibawa.” Lalu ada lagi yang bertanya “Buat apa to Kyai?” Kyai Dahlan hanya menjawab “Sudahlah, ikuti saja perintah saya. Besok kalian juga tahu sendiri.”
Keesokan harinya, sesuai dengan intruksi Kyai Dahlan, para santri datang dengan membawa beras, ada juga yang membawa pakaian bekas, dan makanan. Lalu Kyai Dahlan mengajak santri-santrinya itu untuk pergi ke alun-alun kota Jogjakarta. Disana Pak Dahlan memberikan tugas pada santrinya “Kamu nanti kesana menemui para pengemis itu, kamu kasih mereka beberapa beras dan makanan ini ya. Terus kamu kesana ke tempatnya anak-anak itu dan berikan baju juga bebrapa makanan ini.” Para santripun segera melaksanakan perintah Kyai.
Kisah sederhana Kyai Dahlan tersebut jika ditelaah lebih lanjut sebenarnya mengandung sebuah nilai yang amat luhur. Kyai Dahlan mengajak Santrinya untuk belajar mengamalkan Alquran tidak hanya sekedar dengan membacanya pada waktu shalat saja, namun lebih dari itu adalah melaksanan isi kandungan dari surat tersebut, kala itu yang Al Maun bermakna jika pendusta Agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan fakir miskin.
Kisah sederhana tersebut telah mengajarkan sebuah Liberasi (Pembebasan) dalam bergama. Selama ini sebagaian besar muslim di Indonesia terjebak pada simbolisasi agama. Dimana makna mencintai Agama hanya sebatas dipraktekkan dengan ritual formal seperti shalat lima waktu, puasa, haji dan sebagainya tanpa memahami apa substansi (kandungan) dari shalat, puasa, atau haji tersebut. Maka banyak jika kemudian kita temui orang yang rajin shalat masih gemar korupsi, orang yang rajin puasa masih gemar berfoya-foya dan sebagainya. Itu karena Syariat hanya bersifat ritual tanpa ditarik makna dan pengaruhnya pada pribadi.
Jika kembali melihat dari kisah diatas, seharusnya keshalehan berdampak pada masyarakat dan lingkungan. Seperti yang terjadi, jika ternyata dampak dari mengkaji Al maun itu tidak hanya membuat santri yang mempelajarinya hafal dan paham apa itu surat Al Maun, tapi Masyarakat juga mendapatkan imbas positif dari Al Maun tersebut. Khususnya anak-anak yatim dan fakir miskin.
Sehingga mencintai agama seharusnya tidak cukup hanya sekedar di aplikasikan dalam ritual formal, tetapi juga harusnya berdampak pada perilaku individu dalam kehidupan sosial.
0 komentar:
Poskan Komentar