Menjelang hari raya idul fitri atau masa-masa akhir seperti ini, jalanan pasti akan penuh sesak oleh kendaraan. Entah itu kendaraan umum ataupun pribadi. Kejadian seperti itu bahkan selalu dijadikan berita utama dalam berbagai media. Karena keramaian seperti itu adalah sebuah budaya bangsa yang telah mengakar bertahun-tahun. Agenda besar itu bernama “mudik”
Sekilas saya tercengan melihat pemberitaan media terkait mudik, terlebih kala menjelang idul fitri. Banyak orang rela berdesak-desakan naik kereta atau kapal laut, padahal waktu itu tengah menjalankan ibadah puasa. Banyak yang rela memasang badan menyusuri jalanan nan panjang dengan kendaraan pribadi, ada yang menggunakan mobil ataupun sepeda motor, sehingga membuat jalanan sesak dan riuh suara hingar bingar kenalpot.
meski belum pernah menjalankan mudik seperti itu. Tapi saya tahu betul apa yang terpatri dibenak mereka yang rela menjalankan ritual tahunan seperti itu, yaitu ingin bertemu dan berkumpul sanak keluarga mereka. Ya, paling tidak itulah motivasi mereka untuk meniti jalan yang melelahkan itu.
meski belum pernah menjalankan mudik seperti itu. Tapi saya tahu betul apa yang terpatri dibenak mereka yang rela menjalankan ritual tahunan seperti itu, yaitu ingin bertemu dan berkumpul sanak keluarga mereka. Ya, paling tidak itulah motivasi mereka untuk meniti jalan yang melelahkan itu.
Tak jarang juga saya menepikan airmata ketika melihat di media perihal kecelakaan mudik yang bahkan hingga mengakibatkan hilangnya nyawa. Mereka meninggal dalam kerinduan, rindu kebersamaan bersama keluarga dikampung halaman. Atau meninggal dengan senyum sumringah karena baru saja berjabat tangan dan bertemu sanak keluarga yang dicintainya.
Dari potret diatas, saya kira sebuah kebersamaan itu sangat mahal harganya. Nazarudin ketika kabur dan setelah ditangkap, dia berulang kali mengungkapkan jika yang paling ia sesali adalah hilangnya kebersamaan dengan keluarganya. Para pemudik yang rela berhimpit-himpitan, berlelah-lelah dalam perjalanan, bahkan hingga meregang nyawa adalah untuk berharap sesuatu yang bernama ‘kebersamaan’. Ya, begitu mahal harga sebuah kebersamaan itu.
Maka saya sangat bersyukur manakala saya masih bisa melihat senyum terurai dari sanak keluarga ketika hari raya tiba. Saya kira, bisa bertemu, saling melempar sapa dan senyum, serta berjabat tangan dan bercengkerama dengan orang yang kita kenal apalagi kita sayangi, adalah sebuah nikmat dan rezeki yang tak terkira. Wallohu’alam
0 komentar:
Poskan Komentar