kalender Islam

Welcome

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, SILAHKAN BACA CATATAN-CATATAN SAYA DIBAWAH INI. SUPAYA LEBIH ENAK, SEBELUM MEMBACA SILAHKAN PLAY LAGU DIBAWAH INI

Pena Sang Perindu

Michi no

Jumat, 05 Agustus 2011

Negeri Yang Terkoyak

Tak biasanya wajah seorang veteran datar-datar saja melihat kabar berita mengejutkan seperti yang tengah diberitakan saat ini. Biasanya Mbah Sukimin, Salah seorang veteran yang akrab dipanggil Mbah imin itu akan menyeruak jika mendengar kabar yang menurutnya sangat sensitive itu. “Di salah satu daerah di Indonesia, para pemuda tak dikenal menginjak-injak bendera merah putih.” Biasanya Mbah Imin langsung geram, giginya gemeretak, matanya tajam menusuk, tangannya mengepal kuat dan beberapa detik kemudian air matanya menepi, lalu berkata.

“Dulu Kami memperjuangkan bendera itu dengan darah dan nyawa Kami, kenapa sekarang para pemuda hanya menjadikannya sampah lantas diinjak-injak?”

Tapi, melihat ekspresinya kali ini benar-benar berbeda. Ketika melihat berita itu di salah satu stasiun televise, Mbah Imin hanya bersenda dan sedikit tertawa kecil. Tak menampakkan raut duka seperti kemarin-kemarin.

“Kok malah tertawa Mbah?” tanyaku dengan bingung
“Apa Mbah sudah bosan dengan berita semacam itu?” aku mencoba menerka

Mbah Imin menepuk pundakku dan menjawab dengan nada rendah. Mungkin karena usianya yang senja.

“Buat apa Mbah terus-terusan bersedih Nak, cukuplah Perjuangan itu menjadi wujud cinta Mbah pada Bangsa ini. Apa kamu marah Nak?”

“Tentu Mbah, itu sangat melecehkan bahkan menginjak-injak Bangsa ini Mbah.”

Mbah Imin sejenak merenung, lalu lagi lagi tersenyum kecil.

“Jika ditanya siapa yang paling marah dengan penginjakan Bendera merah putih itu, tentu Mbah adalah orang paling marah Nak. Karena bagi Mbah bendera itu adalah jiwa Mbah yang dulu Mbah perjuangkan dengan nyawa Mbah. Tapi…..”

“Tapi apa Mbah?” tanyaku penasaran

Sementara aku menunggu jawaban Mbah Ikin, ditelevisi terjadi demo besar-besaran menuntut hukuman mati bagi para tersangka yang menginjak-injak bendera merah putih itu. Demo sakaligus protes besar-besaran itu di Provokatori oleh Mahasiswa, tokoh nasional, dan elite politik. Sepertinya bangsa ini juga geram dengan aksi tak berdab para pemuda tak dikenal itu.

“Lucu ya?” pekik Mbah Imin

“Lucu apa Mbah? Tadi Mbah belum meneruskan kata-kata Mbah.”

“Iya ini Mbah lanjutkan.”

Mbah Imin menghela nafas, Nampak raut mendung di wajah Mbah, padahal sedari tadi kulihat biasa-biasa saja. Apakah Mbah Imin mulai tersayat lagi?

“Mbah sacar jika bendera itu hanya symbol, jadi kemarahan yang berlebihan jika bendera merah putih diinjak-injak itu Mbah kira tidak begitu penting.”

“Tapi itu bendera Negara lo Mbah.” Protesku

“Mbah tahu, tapi sebenarnya bukan itulah makna suatu Negara itu.”

“Maksug Mbah?”

“Bangsa ini tertipu dengan bentuk fisik,” Ucap Mbah Imin

Aku masih bingung, ku coba menerka maksud beliau. Tapi, entah apa ya maksudnya?

“Kenapa Bangsa ini marah ketika benderanya diinjak-injak? Sementara kebanyakan hanya diam saja ketika “bangsa”-nya yang diinjak-injak?” jelas Mbah Imin

Aku semakin bingung.

“Nak, bukankah harga diri bangsa itu tidak hanya dilihat dari bendera yang berbentu fisik? Bendera itu hanya sebuah symbol, bukankah esensi itu lebih penting?”

“Esensi lebih penting?” tanyaku

“Apakah bangsa ini buta, jika sebenarnya aksi pemuda tak dikenal itu belumlah seberapa. Masih ada yang lebih menginjak-injak bangsa ini selain pemuda yang tak dikenal itu.”

“siapa, Mbah?”

“Korupsi uang Negara itu secara esensial sebenarnya telah menginjak-injak kehormatan bangsa. Bangsa Indonesia dibangun atas pengorbanan, perjuangan, dan keihklasan para Pahlawan. Tidak main-main, nyawa menjadi taruhannya. Sementara sekarang, malah banyak yang mau menghancurkan bangsa dari dalam.”

“Secara ekonomi kita telah diinjak-injak oleh bangsa lain, lihatlah sekarang siapa yang menguasai pangsa pasar dalam negeri. Secara moral kita telah diinjak-injak oleh berbagi film cabul dan tak bermutu dari negeri asing, secara intelektual kita diinjak-injak oleh idiologi-idiologi sesat yang menebarkan bau anyir tak karuan. Apa lagi, bahkan kehormatan bangsa yang dulu dibangun dengan darah para syuhada kini diinjak-injak pula oleh nafsu para pejabatnya,” jelas Mbah Imin dengan berapi-api

Aku terperangah, Mbah Imin sangat berai-api, mirip gaya pidatonya Buya Syafi’i. sejenak ku menelan ludah, dadaku Nampak sesak dengan berbgai hal yang dikatakan Mbah Imin barusan.

“Lalu kenapa anak bangsa tidak begitu memprotes. Bahkan yang sekarang perutnya penuh ulat bisa berkelekar dan tertawa terbahak-bahak didalam istana yang mewah. Sementara para Veteran yang mengorbankan darahnya hanya menjadi kaum terasing yang menunggu ajal dengan susah payahnya hidup. Anakku, Bangsa ini telah banyak diinjak-injak jauh melebihi sekedar fisik dan symbol-simbol bendera. Bangsa ini dikoyak habis oleh para pemangku kekuasaanya,” lanjut Mbah Imin

Sejurus kemudian air matanya tertumpah membasahi kerut wajahnya yang telah terpahat Indah. Pahatan para pejuang.

“Yang Mbah takutkan sebenarnya Cuma satu,” lanjut Mbah Imin

“Mbah tak pernah pesimis dengan nasib bangsa kedepan, karena Mbah yakin akan ada generasi muda yang tidak hanya akan meneruskan tapi meluruskan bangsa yang bengkok ini, tapi, jika Pemudanya kini telah diracuni oleh idiologi hedonis, materialis, kapitalis. Maka sungguh harapan bangsa ini hanya angan semu. Bangsa ini akan mati luluh lantak, atau hanya akan berjalan dengan luka-luka menganga yang terus meneteskan darah-darah busuk kemana-mana. Itulah yang Mbah takutkan.”

0 komentar:

Jumat, 05 Agustus 2011

Negeri Yang Terkoyak

Tak biasanya wajah seorang veteran datar-datar saja melihat kabar berita mengejutkan seperti yang tengah diberitakan saat ini. Biasanya Mbah Sukimin, Salah seorang veteran yang akrab dipanggil Mbah imin itu akan menyeruak jika mendengar kabar yang menurutnya sangat sensitive itu. “Di salah satu daerah di Indonesia, para pemuda tak dikenal menginjak-injak bendera merah putih.” Biasanya Mbah Imin langsung geram, giginya gemeretak, matanya tajam menusuk, tangannya mengepal kuat dan beberapa detik kemudian air matanya menepi, lalu berkata.

“Dulu Kami memperjuangkan bendera itu dengan darah dan nyawa Kami, kenapa sekarang para pemuda hanya menjadikannya sampah lantas diinjak-injak?”

Tapi, melihat ekspresinya kali ini benar-benar berbeda. Ketika melihat berita itu di salah satu stasiun televise, Mbah Imin hanya bersenda dan sedikit tertawa kecil. Tak menampakkan raut duka seperti kemarin-kemarin.

“Kok malah tertawa Mbah?” tanyaku dengan bingung
“Apa Mbah sudah bosan dengan berita semacam itu?” aku mencoba menerka

Mbah Imin menepuk pundakku dan menjawab dengan nada rendah. Mungkin karena usianya yang senja.

“Buat apa Mbah terus-terusan bersedih Nak, cukuplah Perjuangan itu menjadi wujud cinta Mbah pada Bangsa ini. Apa kamu marah Nak?”

“Tentu Mbah, itu sangat melecehkan bahkan menginjak-injak Bangsa ini Mbah.”

Mbah Imin sejenak merenung, lalu lagi lagi tersenyum kecil.

“Jika ditanya siapa yang paling marah dengan penginjakan Bendera merah putih itu, tentu Mbah adalah orang paling marah Nak. Karena bagi Mbah bendera itu adalah jiwa Mbah yang dulu Mbah perjuangkan dengan nyawa Mbah. Tapi…..”

“Tapi apa Mbah?” tanyaku penasaran

Sementara aku menunggu jawaban Mbah Ikin, ditelevisi terjadi demo besar-besaran menuntut hukuman mati bagi para tersangka yang menginjak-injak bendera merah putih itu. Demo sakaligus protes besar-besaran itu di Provokatori oleh Mahasiswa, tokoh nasional, dan elite politik. Sepertinya bangsa ini juga geram dengan aksi tak berdab para pemuda tak dikenal itu.

“Lucu ya?” pekik Mbah Imin

“Lucu apa Mbah? Tadi Mbah belum meneruskan kata-kata Mbah.”

“Iya ini Mbah lanjutkan.”

Mbah Imin menghela nafas, Nampak raut mendung di wajah Mbah, padahal sedari tadi kulihat biasa-biasa saja. Apakah Mbah Imin mulai tersayat lagi?

“Mbah sacar jika bendera itu hanya symbol, jadi kemarahan yang berlebihan jika bendera merah putih diinjak-injak itu Mbah kira tidak begitu penting.”

“Tapi itu bendera Negara lo Mbah.” Protesku

“Mbah tahu, tapi sebenarnya bukan itulah makna suatu Negara itu.”

“Maksug Mbah?”

“Bangsa ini tertipu dengan bentuk fisik,” Ucap Mbah Imin

Aku masih bingung, ku coba menerka maksud beliau. Tapi, entah apa ya maksudnya?

“Kenapa Bangsa ini marah ketika benderanya diinjak-injak? Sementara kebanyakan hanya diam saja ketika “bangsa”-nya yang diinjak-injak?” jelas Mbah Imin

Aku semakin bingung.

“Nak, bukankah harga diri bangsa itu tidak hanya dilihat dari bendera yang berbentu fisik? Bendera itu hanya sebuah symbol, bukankah esensi itu lebih penting?”

“Esensi lebih penting?” tanyaku

“Apakah bangsa ini buta, jika sebenarnya aksi pemuda tak dikenal itu belumlah seberapa. Masih ada yang lebih menginjak-injak bangsa ini selain pemuda yang tak dikenal itu.”

“siapa, Mbah?”

“Korupsi uang Negara itu secara esensial sebenarnya telah menginjak-injak kehormatan bangsa. Bangsa Indonesia dibangun atas pengorbanan, perjuangan, dan keihklasan para Pahlawan. Tidak main-main, nyawa menjadi taruhannya. Sementara sekarang, malah banyak yang mau menghancurkan bangsa dari dalam.”

“Secara ekonomi kita telah diinjak-injak oleh bangsa lain, lihatlah sekarang siapa yang menguasai pangsa pasar dalam negeri. Secara moral kita telah diinjak-injak oleh berbagi film cabul dan tak bermutu dari negeri asing, secara intelektual kita diinjak-injak oleh idiologi-idiologi sesat yang menebarkan bau anyir tak karuan. Apa lagi, bahkan kehormatan bangsa yang dulu dibangun dengan darah para syuhada kini diinjak-injak pula oleh nafsu para pejabatnya,” jelas Mbah Imin dengan berapi-api

Aku terperangah, Mbah Imin sangat berai-api, mirip gaya pidatonya Buya Syafi’i. sejenak ku menelan ludah, dadaku Nampak sesak dengan berbgai hal yang dikatakan Mbah Imin barusan.

“Lalu kenapa anak bangsa tidak begitu memprotes. Bahkan yang sekarang perutnya penuh ulat bisa berkelekar dan tertawa terbahak-bahak didalam istana yang mewah. Sementara para Veteran yang mengorbankan darahnya hanya menjadi kaum terasing yang menunggu ajal dengan susah payahnya hidup. Anakku, Bangsa ini telah banyak diinjak-injak jauh melebihi sekedar fisik dan symbol-simbol bendera. Bangsa ini dikoyak habis oleh para pemangku kekuasaanya,” lanjut Mbah Imin

Sejurus kemudian air matanya tertumpah membasahi kerut wajahnya yang telah terpahat Indah. Pahatan para pejuang.

“Yang Mbah takutkan sebenarnya Cuma satu,” lanjut Mbah Imin

“Mbah tak pernah pesimis dengan nasib bangsa kedepan, karena Mbah yakin akan ada generasi muda yang tidak hanya akan meneruskan tapi meluruskan bangsa yang bengkok ini, tapi, jika Pemudanya kini telah diracuni oleh idiologi hedonis, materialis, kapitalis. Maka sungguh harapan bangsa ini hanya angan semu. Bangsa ini akan mati luluh lantak, atau hanya akan berjalan dengan luka-luka menganga yang terus meneteskan darah-darah busuk kemana-mana. Itulah yang Mbah takutkan.”

0 komentar kamu: